Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

blog-indonesia.com

19 Agustus 2007

Pengembangan Kreativitas Diri

Oleh : Ahmad Ikhwan Susilo

Semua orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah...

Banyaknya calon mahasiswa baru yang gagal dalam SPMB menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi pihak universitas. Pasalnya, mereka bisa membuka jalur khusus di luar jalur reguler (SPMB). Dengan adanya kebijakan pemerintah melalui PP No. 61/1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Sebagai Badan Hukum, yang mengharuskan pihak perguruan tinggi untuk menjalankan otonomi, bisa dilihat mereka akan memanfaatkan peluang seperti ini. Alhasil, perguruan tinggi tersebut akan memasang tarif mahal dengan seenaknya, demi keuntungan pribadi atau perekonomian mandiri lembaga, kepada calon mahasiswa yang lebih memilih jalur ini.

Bagi mereka yang berasal dari kelas menengah ke atas tentu tak menjadi soal asal anak mereka masuk ke PTN yang diidamkan. Namun, akan lain cerita bagi mereka calon mahasiswa dari keluarga miskin yang tidak mampu. Dan pihak kampus tidak memberi banyak pilihan bagi mereka serta tidak begitu peduli dengan kemampuan ekonomi masyarakat yang terbatas ini. Begitu pun dengan PTS yang dalam hal kualitas tidak kalah dengan PTN. Akan tetap sama masalahnya apabila biaya pendidikan sangatlah mahal. Mereka calon mahasiswa yang miskin tersebut akhirnya hanya bisa bermimpi. Pupus harapan untuk dapat mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kapitalisasi pendidikan telah merubah dari hakekat/tujuan awal pendidikan di negeri ini – seperti yang termaktub dalam mukadimmah konstitusi, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa – ke arah komersialisasi. Akibatnya, banyak generasi muda bangsa ini yang tidak bisa menikmati pendidikan tinggi. Jangankan untuk mengatasi permasalahan mahalnya biaya pendidikan perguruan tinggi, negara saja belum mampu menjawab persoalan mendasar pendidikan, yaitu menggratiskan pendidikan dasar sembilan tahun, seperti yang disebutkan dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 1 dan 2, bahwa; tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar, dan pemerintah wajib membiayainya. Alih-alih pemerintah justru memberikan kebijakan yang tak bijak dengan menetapkan PTN sebagai Badan Hukum Pendidikan Milik Negara (BHPMN) yang jelas lebih berorientasi profit...selengkapnya

Cerita yang Tersisa



“Aku kira memang sebaiknya kau kembali ke daerahmu. Tak perlu kau teruskan studymu di sini. Kau manfaatkan uang yang kau miliki itu untuk membeli buku sebagai referensi tulisanmu. Tempatmu bukan lagi di student, sudah selayaknya kau terjun ke sektoral membangun basis pemuda, buruh atau tani. Sudah kita yakini bersama sejak dulu bahwa perjuangan tidak tuntas sampai di sini, kawan.”

Ya, aku kira memang benar ucapanmu malam itu waktu kita berdiskusi di warung kopi dekat rel kereta depan Graha pena. Kau sungguh tahu dan begitu peduli dengan kondisiku. Ide. Gagasan cemerlang – walau kadang kupikir terlalu naif -- itulah yang aku suka darimu yang selalu lahir dalam diskusi-diskusi kecil yang sering kita lakukan berdua menghabiskan malam. Aku pun tahu dengan posisi dilematismu melihat dinamika kawan-kawan yang lain. Tetapi, itu tak membuat kita mundur selangkah pun. Sudah sekiranya memang aku harus meninggalkan dinamika ini. Seiring gerak materi yang semakin cepat tentunya kita harus berdialektika dengannya. Tidak baik terlalu lama berdiam diri dalam kondisi stagnan yang bisa melumpuhkan kaki kita.

“Kau usah risau dengan kondisi kita hari ini. Toh kepergianmu kali ini hanya membuat kita berpisah untuk sementara waktu. Kita berpencar untuk menyusun kekuatan dan nantinya kembali menyatu dalam satu barisan kokoh. Walau belum saatnya, tetapi karena kondisi berbicara lain, tak apa kalau kau memulai lebih dulu.”...selengkapnya





09 Juli 2007

Cerpen

Mutiara Pesisir Utara

"Mari dik, silahkan masuk", bapak tua itu mempersilahkan aku dan temanku serta beberapa gerombol orang, tampaknya para pemuda kampung ini, masuk ke dalam rumahnya yang sangat sederhana. Kami semua baru pulang dari sebuah konsolidasi yang dilakukan di desa Lumbung yang jaraknya kurang lebih 25 kilometer dari desa ini. Perjalanan pulang dari desa Lumbung kami tempuh dengan naik truk bersama para penduduk yang ikut konsolidasi pada malam itu. Ada dua truk yang mengangkut kami. Desa yang aku tuju namanya desa Kapu. Letaknya di pesisir utara Pulau Jawa. Jangan bayangkan bahwa jalan masuk ke desa ini mudah ditempuh. Justru sebaliknya, kondisi jalannya sangat buruk. Banyak lobang di sana-sini yang terpaksa truk yang kami tumpangi harus berhati-hati. Sedikit kesalahan saja bisa berakibat fatal karena di samping jalan adalah jurang terjal. Sangat memprihatinkan dimana infrastruktur jalan menuju desa ini tidak diperhatikan sama sekali oleh pemerintah daerah setempat. Mereka terlalu mementingkan pembangunan di pusat kota. Mengabaikan kepentingan penduduk pinggiran yang sangat jelas mereka juga membutuhkan akses ke kota untuk menjual hasil panen dan kepentingan sosial ekonomi lainnya.

Sebelum masuk ke desa ini, aku disuguhi dengan pemandangan hutan yang begitu lebat. Malam hari telah membuat suasana hutan ini menjadi tampak garang namun bersahabat. Dia seolah bangga menunjukkan keperkasaannya pada semua makhluk yang ada disekitar dan membuatnya tunduk ketika harus melewatinya. Setelah satu setengah jam berlalu, akhirnya kami pun sampai di desa Kapu. Sebuah perjalanan yang sama melelahkannya dari Jogja - Semarang, bahkan lebih melelahkan. Akhirnya kami semua berkumpul di rumah salah seorang warga yang ikut konsolidasi tadi. Malam ini terasa hening. Angin bertiup lamban penuh irama. Menyapu dan membelai pohon-pohon disekitar. Menimbulkan irama gemerisik yang teratur. Terdengar pula dengan jelas suara kinjeng dan jangkrik yang mencoba berkolaborasi dengan angin malam serta suara burung hantu yang menjadi satu symphoni alam. Sebuah orkestra yang sangat indah. Mengalun pelan dan sesekali menciptakan hentakan. Satu kesatuan bertempo alledante dan allegro. Aku merasa nyaman. Damai. Penuh ketenangan.

"Jadi adik berdua ini namaya siapa dan darimana?" kata bapak tua itu memulai percakapan. " Kan sedari tadi kami semua di sini belum sempat berkenalan dengan sampeyan."

"Saya Agus, pak" demikian aku memperkenalkan diri.

"Dan saya Anton" sambung temanku.

"Kami berdua dari Jogja. Kedatangan kami tak lain adalah ingin mencoba berdinamika bersama para warga di sini. Kami ingin belajar banyak tentang kondisi di kampung ini, pak" begitulah aku mengutarakan maksud kedatangan ku dan temanku.

"Berarti sampeyan yang akan membantu kami untuk persiapan acara tani lusa?" tanyanya.

"Benar, pak" jawab Anton.

"Nama saya Wiro. Sebenarnya saya bukan kepala kampung di sini. Namun, saya selalu dipercaya untuk mewakili setiap acara di Balai Desa dan acara rembug lainnya untuk menyampaikan aspirasi para warga di sini. Ya, bisa dibilang saya termasuk sesepuh di desa Kapu. Desa pinggiran yang semakin terpinggirkan" begitu penjelasannya.

"Terpinggirkan bagaimana,pak?"tanyaku

"Kami ini sudah miskin dik dan semakin dimiskinkan oleh mereka para penguasa perkebunan ini. Kalau dulu orang menyebutnya para setan desa. Kami yang bodoh ini telah banyak dibodohi oleh sistem".

Tiba-tiba seorang pemuda yang duduk di samping kiri pojok ikut bicara. "Kami semua di sini hampir tidak memiliki apa yang seharusnya kami miliki. Harta berharga yang kami miliki tidak jelas statusnya. Harta yang mampu menyambung penghidupan kami. Tanah."...selengkapnya

cerpen

Dini Benci Sekolah


Inilah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Dini. Hari kelulusan. Setelah dua belas tahun lamanya ia lewati penuh kebosanan di sebuah tempat yang namanya sekolah. Sudah lama ia ingin keluar dari tempat itu yang membuatnya merasa seperti terpenjara. Terkekang kebebasannya untuk menikmati dunia yang sebenarnya. Melihat realitas dengan jelas tanpa terkurung dalam keangkuhan tembok tinggi dan terisolasi oleh kurikulum yang membatasi. Mencoba membongkar kebenaran yang banyak tertutupi oleh sebuah doktrinasi lama dengan wajah baru. Muak!. Semua itu memuakkan. Sekolah membuatnya merasa seperti mesin fotokopi yang harus menggandakan dan menyalin sama dengan aslinya. Semakin banyak dibuat dan diedarkan semakin bagus. Layaknya robot mekanik yang terprogram paten untuk menuruti kemauan si pencipta. Menjalankan semua perintah. Tak akan bergerak bila tidak digerakkan. Semakin menurut semakin dielu. Dan segera orang akan memberikan predikat "pintar" dengan murah layaknya barang yang diobral.


Seandainya Ki Hajar Dewantara masih hidup tentu semua akan tampak lain di mata Dini. Dia memang sangat kagum dengan sosok Bapak Pendidikan Indonesia ini. Dia belajar banyak tentang biografi dan filosofi pemikirannya dari beberapa buku koleksi di perpustakaan pribadi milik kakeknya yang dia baca. Dia ingin sekali bersinggungan langsung, diajar dan menimba ilmu pada sosok Ki Hajar Dewantara yang lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Menikmati bagaimana rasanya bersekolah di Taman Siswa. Namun sayang Tuhan mengha dirkanya di dunia lewat rahim sang ibu di jaman dimana segala sesuatu ditentu kan oleh uang. Akhirnya, ia hanya bisa mendengar cerita tentang kejayaan pendidikan di negeri ini dari mulut sang kakek yang dulu pernah menikmati suasana sekolah di Taman Siswa dan dari buku-buku kusam yang masih tersimpan rapi di rak....selengkapnya

18 Juni 2007

Berani Berbuat Berani Bertanggungjawab

Oleh : Ahmad Ikhwan Susilo

Tidak ada satu pun yang menginginkan KTD(Kehamilan Tidak Diinginkan), tetapi kenyataannya sampai hari ini masih banyak kasus aborsi yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia((World Health Organization-WHO) pada tahun 2006 menyebutkan bahwa tingkat kasus aborsi—spontan maupun tidak spontan—yang terjadi di Indonesia paling tinggi di Asia Tenggara, mencapai 2 juta kasus dari jumlah kasus di negara-negara ASEAN yang mencapai 4,2 juta kasus per tahun. Dari estimasi data tersebut disinyalir akan terus bertambah tiap tahunnya jika tidak segera disikapi. Sangat memprihatinkan!.

Kasus aborsi ini banyak di alami oleh ibu rumah tangga dan remaja putri(ABG) yang mengalami “kecelakaan”. Kebanyakan stigma yang beredar di kalangan masyarakat bahwa mereka yang melakukan praktek aborsi ini akibat hubungan di luar nikah. Memang inilah fakta yang sering diekspose oleh media cetak maupun elektronik. Tetapi, pada kenyataannya banyak penyebab lain yang mengakibatkan seseorang melakukan prektek aborsi. Diantaranya; kegagalan alat kontrasepsi, kondisi kesehatan ibu hamil yang lemah, kemiskinan, pemerkosaan dan lain sebagainya...selengkapnya

01 Juni 2007

Menabur Benih Masa Depan

Oleh : Ahmad Ikhwan Susilo

Tugas pendidikan adalah memerdekakan…!

Begitulah apa yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara tentang bagaimana pendidikan itu seharusnya. Di sekolah para pendidik dituntut untuk mampu memerdekakan peserta didik dari pikiran yang penuh prasangka. Memerdekakan mereka dari sikap mental yang mirip seperti budak. Memerdekakan dari sikap pengecut dan tidak memiliki keberanian dalam mengambil keputusan, dan memerdekakan peserta didik dari pola pikir yang asing. Lalu, mengajarkan pada mereka bagaimana menghidupkan nilai-nilai ideal dalam kehidupan sehari-hari.
Pun demikian halnya dengan apa yang ditulis oleh Paulo Freire, bahwa hakekat pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia(humanisasi). Pendidikan dijadikan sebagai medium pembebasan dari belenggu ketertindasan dan kebodohan. Dalam prosesnya, belajar bukanlah mengkonsumsi ide, tetapi terus-menerus menciptakan ide. Para pendidik, sebagai fasilitator, harus mampu membangun kesadaran para peserta didik untuk be lajar dan melatihnya untuk berpikir kritis...selengkapnya

21 April 2007

The Da Vinci Code

“Mengapa Dihujat? Mengapa Dibela?"

Buku novel Dan Brown dengan judul "The Da Vinci Code" (disingkat TDVC) yang terbit tahun 2003 merupakan buku terlaris saat ini karena telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan telah dijual lebih dari 65 juta buah . Kalau jumlah buku ini dibagikan di Indonesia dan Malaysia serta Singapura maka setiap keluarga dapat dijangkau distribusinya . Buku tersebut juga telah difilmkan oleh sutradara Ron Howard dan dibintangi oleh para aktor dan aktris beken seperti Tom Hanks, Audrey Tautou, Jean Reno, Ian McKellen dan Alfred Molina . Pementasan film tersebut juga diluncurkan diseluruh dunia berbarengan dengan dibukanya Festival Film Internasional di Cannes 19 Mei 2006 yang lalu . Keberhasilan peredaran buku dan film tersebut berkat kerjasama bisnis yang sukses dengan perusahaan entertaintment raksasa Sony Columbia dengan investasi sebesar 100 juta dollar Amerika .

Sebagian orang mengatakan bahwa Dan Brwon dan kawan-kawannya yang terlibat dalam bisnis raksasa ini telah meraup keuntungan jutaan atau malah milyaran dollar Amerika . Selain kagum kita juga bertanya mengapa buku dan film TDVC ini begitu berhasil menembus pasar dunia ?

Dengan sangat piawi Dan Brown, seorang mantan penyanyi lagu pop telah meramu sebuah ceritera yang amat mengasyikkan dengan menggunakan elemen-elemen historis, seni rupa, ajaran agama Kristen serta banyak lagi ide yang diciptakannya sendiri .Para pembaca yang kurang berhati-hati akan dengan gampang dibawa hanyut oleh alur ceritera Dan Brown yang penuh kejutan dan amat menegangkan itu . Tidak heran bahwa pada buku edisi bahasa Indonesia dikatakan bahwa buku ini akan "memukau nalar, mengguncang iman".

Mengapa buku dan film TDVC dapat mengguncang iman umat beragama, khususnya umat Kristiani atau para pengikut Yesus Kristus ?...selengkapnya

Memandang Lintang

Lupakan dia..

Jangan harapkan lagi..

Lupakan dia..

Selamanya..!

Bisikan itu semakin kuat menyelimutimu. Mengganggu tidur malammu. Membuatmu tampak semakin resah. Semakin kuat lagi. Semakin kencang. Dan..

Tidak!

Aku tidak bisa!

Aku tidak bisa melupakannya. Aku tidak ingin melupakannya. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku terlalu sayang kepadanya. Tolong jangan paksa aku. Tolong jangan…!

Tiba-tiba suara handphone membuatmu terbangun dengan sergap. Satu pesan diterima. Dengan mata yang masih belum bisa berkompromi dengan pagi, kau paksakan jemarimu untuk membuka pesan itu. Dan seperti biasa, pesan ramalan bintang selalu menyambutmu tiap pagi. Ramalan pagi ini membuatmu terbelalak. Terkejut. Diam dan sedih.

Anda tampaknya tak bisa lepas dari bayang-bayang dirinya. Tapi cinta anda bertepuk sebelah tangan, si dia sudah semakin jauh dari jangkauan anda.

Tak terasa air matamu menetes ketika kau baca pesan itu. Baru kali ini kau merasa cengeng terhadap dirimu sendiri. Cengeng karena sesuatu hal yang selama ini kau abaikan. Tak pernah mau kau rasakan, padahal dalam lubuk hati kecilmu menginginkannya. Kau terlalu munafik terhadap perasaanmu sendiri. Tak pernah mau berkompromi dengan rasa cinta dan keterikatan.

Akhirnya, ketika rasa itu datang ia tak mau berkompromi denganmu. Meninggalkanmu bersama idealisme yang kau bawa. Dan terlambat untuk menyesal. Semua telah hilang, tetapi apa yang masih tersisa dari seseorang yang telah kehilangan segalanya selain harapan. Berharap suatu saat kau bertemu kembali dengannya, dan ketika masa itu tiba kau akan tersenyum lagi, menanyakan apakah masih ada ruang buatmu di hatinya. Sebuah harapan terakhir yang menjadi semangat hidupmu...selengkapnya

10 Juli 2006

"...Liat neh..."



ini salah satu foto koleksiku...selengkapnya

09 Juli 2006

Hari Pers Nasional 2006

Revolusi teknologi informasi!

Itulah perubahan besar yang terus kita alami. Media menjadi multimedia. Tidak lagi terbatas media cetak, sekaligus media elektronik. Radio, film, televisi, internet, semua yang termasuk media digital, kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan media, sebagai sumber informasi. Kita sungguh se dang merasuki apa yang disebut dengan era digital. Baca selengkapnya...http://bungkapit21artikel.blogspot.com

Gambling

Kawan...aku baru sadar kalo hidup itu ibarat kita main judi. Kala waktu kita harus berani bertaruh untuk masa depan yang kita impikan. Dan kita pun harus menerima segala konsekuensi yang ada. Entah konsekuensi itu nantinya akan sesuai dengan impian kita atau nggak, yang jelas kita harus berani mengambil segala resiko...

Keberanian. Itulah kunci dasar dalam menghadapi segala tantangan kehidupan. Toh seperti apa yang pernah aku lontarkan, terkadang cita-cita itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Kita ingin selalu berjalan lurus, tetapi akhirnya malah belok. Apalagi kalo beloknya ke "kiri"...
lama-lama jadi "kiri" itu seksi..he..he..he..

Sebaliknya, ketika kita sudah berani bertaruh untuk mimpi masa depan dan selalu bersikap optimis, aku yakin kita akan menang dalam perjudian kehidupan ini. Taruhan tidak akan mejadi suatu hal yang sia-sia.

Kawan...hal yang mendasar kenapa tulisan ini aku beri judul "Gambling" karena memang hari ini aku bertaruh. Bertaruh untuk menang. Banyak hal yang telah aku pertaruhkan untuk mencapai mimpi yang lebih baik. Aku telah memutuskan untuk berhenti kuliah dengan harapan aku bisa hidup mandiri tanpa tergantung kepada orang tua. Walaupun sebenarnya alasan aku memutuskan studiku karena ada beberapa konflik antara aku dan orang tuaku sendiri.
Berbeda pandangan, mungkin itu alasan yang mendasar diantara beberapa alasan yang lainnya.
Dan saat itu egoku memang sangat labil. Konflik itu sempat membuat aku benci dengan orang tuaku. Aku terlalu angkuh dengan menjauhi mereka. Sampai suatu saat aku sadar bahwa aku memang tidak bisa jauh dengan mereka. Akhirnya, kebencian itu bisa aku redam dan aku tetap dengan keputusanku untuk mandiri tanpa tergantung mereka, terutama dalam hal materi.

Sudah sepuluh bulan ini aku menjalani kemandirianku ini. Susah dan senang ibarat kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan. Aku jadi teringat akan ajaran Dao (baca Tao) bahwa kehidupan ini harus kita terima apa adanya karena di dunia ini selalu ada keseimbangan. Jangan terlalu mengikuti "keinginan" karena kita bisa terjerumus karenanya. Buatlah keseimbangan dalam hidup ini dan lakukan tanpa pamrih. Ibarat kesatuan antara Ying dan Yang.

Kawan...permainan ini telah aku mulai dan taruhan sudah aku pasang. Dadu telah terlempar.
Apakah aku akan menang atau kalah? Entahlah, yang jelas hari ini aku merasa optimis bahwa apa yang aku pertaruhkan tidak akan sia-sia, itulah harapanku. Semoga...

Selamat malam, kawan...

13 April 2006

" Kabar Buat Kawan dan Tuhan "

Kawan...mimpi memang tak selamanya akan menjadi nyata. Sewaktu kita masih kecil sering kita bermimpi untuk menjadi seorang artis,dokter,pilot,presiden,pejabat dan sebagainya. Tetapi, itu semuanya ada yang terwujud dan ada yang tidak dan semua tergantung bagaimana usaha kita untuk menggapai mimpi kita itu. Ketika usaha sudah kita lakukan dan ternyata mimpi tetap belum terwujud berarti Tuhan berkehendak lain. Tetapi apa benar Tuhan mempunyai kehendak lain jika umatnya telah berjuang sekeras mungkin.

Kawan...kadang aku ngerasa Tuhan itu juga Dzat yang mempunyai watak humoris,usil dan suka bercanda. Semisal,saat kita jalan tiba-tiba hujan deras lalu tak lama kembali reda dan kembali panas,kadang di tempat A hujannya deras di tempat B yang nggak jauh dari A cuacanya terang benderang. He..He..He..semoga Tuhan tidak marah sama aku karena aku yakin di Maha Pemaaf dan Maha Tahu bahwa umatnya ini saat membuat tulisan ini juga bercanda tanpa bermaksud menentang dan membuat-Nya marah.

Kawan...aku tak tahu apalagi yang ingin aku tulis di sini karena otakku saat ini dipenuhi beban-beban atau masalah-masalah yang bagi aku berat sekali menanggungnya sendiri. Aku ingin mengeluh, aku ingin berontak, aku ingin mencaci-maki, aku ingin marah, tetapi aku nggak tahu kepada siapa aku luapkan semua perasaan ini.
Saat ini aku merasakan kesepian yang amat sangat walaupun di dekatku ada musik yang diputar keras oleh teman sekantorku. Dia sedang asyik chat dengan temannya di dunia maya. Aku juga nggak tahu apakah temannya itu cowok atau cewek yang jelas aku juga melihat kesepian, kekosongan dan keresahan di matanya. Semoga dia bahagia dengan apa yang dia lakukan di dunia maya itu. Sedang aku sendiri? aku tetap menikmati sisa-sisa kekelamanku kemaren malam. Kejadian yang tak terduga menimpaku. Mungkin ini salah satu kehendak Tuhan terhadapku. Aku menabrak seorang gadis china yang sedang naik motor dan untungnya dia tidak apa-apa. Saat itu aku tidak bisa berkata apapun. Aku menyadari bahwa aku memang salah karena aku terlalu kencang dan motorku juga tidak ada lampunya. Tetapi bukan itu yang membuat aku terdiam. Gadis - ya gadis itulah yang membuat aku tidak bisa berkata apa-apa. Bukan karena kecantikannya - karena dia seorang gadis dan aku telah melukai seorang gadis. Aku yakin psikologisnya terganggu dan aku juga yakin dia pasti tidak pulas tidur malam. Kejadian itu pasti tetap terngiang dalam pikirannya...dalam hati aku merasa kasihan kepadanya. Aku ingin meminta maaf sepenuhnya kepadanya...aku telah melukainya Kawan...Semoga dia baik-baik saja...
Ya Tuhan ringankanlah semua beban dan penderitaanku ini dan maafkan aku karena selama ini aku jauh pada-Mu

Selamat Malam...

27 Februari 2006

tugas kita

"kita sebagai generasi muda ditugaskan untuk menghancurkan generasi tua yang mengacau...kitalah generasi yang akan memimpin bangsa ini..." Soe Hok Gie,

petuah kakek


"kau tahu kenapa aku menyayangimu lebih dari yang lain...karena kau menulis." (Pramoedya Ananta Toer)