rp({"version":"1.0","encoding":"UTF-8","feed":{"xmlns":"http://www.w3.org/2005/Atom","xmlns$openSearch":"http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/","xmlns$georss":"http://www.georss.org/georss","id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569"},"updated":{"$t":"2009-11-09T23:28:43.221+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Catatan Hitam"},"subtitle":{"type":"html","$t":"Sebuah Catatan Kecil Tentang \"HITAM\" dan \"PUTIH\" Realitas dan Imajinasi yang Diamati dan Dirasakan Penulis...\nSelamat Membaca dan Salam Rock'n Roll"},"link":[{"rel":"http://schemas.google.com/g/2005#feed","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/posts/default"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default?alt\u003djson-in-script\u0026orderby\u003dpublished"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/"},{"rel":"hub","href":"http://pubsubhubbub.appspot.com/"},{"rel":"next","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default?alt\u003djson-in-script\u0026start-index\u003d26\u0026max-results\u003d25\u0026orderby\u003dpublished"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"}}],"generator":{"version":"7.00","uri":"http://www.blogger.com","$t":"Blogger"},"openSearch$totalResults":{"$t":"53"},"openSearch$startIndex":{"$t":"1"},"openSearch$itemsPerPage":{"$t":"25"},"entry":[{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-3875302884975738509"},"published":{"$t":"2009-04-23T11:00:00.005+07:00"},"updated":{"$t":"2009-04-23T11:43:41.442+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Surat tentang Kebebasan dan Cita-cita"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/Se_uGQJN9eI/AAAAAAAAAI8/f3EtRPrK3Z8/s1600-h/photo12.jpg\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;\" src\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/Se_uGQJN9eI/AAAAAAAAAI8/f3EtRPrK3Z8/s320/photo12.jpg\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5327738675382842850\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eJEPARA, 8 Agustus 1900. Rosa Manuela Abendanon dan suaminya, seorang pejabat Hindia Belanda, Direktur Kementerian Pengajaran, Ibadat, dan Kerajinan, mampir ke kabupaten itu. Mereka bertemu dengan keluarga Bupati RMAA Sosroningrat, termasuk Kartini dan dua saudaranya—Roekmini dan Kardinah—dan menghabiskan dua malam bersama keluarga itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSejak itu, Rosa Manuela Abendanon memperoleh gambaran seorang perempuan ningrat Jawa yang gelisah. Melalui surat-menyurat intensif, ia melihat gairah yang begitu tinggi untuk menuntut ilmu di Negeri Belanda. Juga pandangannya yang kritis terhadap sepak terjang pemerintah Hindia Belanda yang diskriminatif terhadap kaum pribumi di lingkungan sekitar dirinya, dan terhadap budaya aristokratik yang mengekang.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eYa, dia menulis soal kehidupan rakyat yang terbelakang dan minimnya pengajaran bagi para perempuan. Dia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa yang terbelenggu oleh tradisi, dilarang belajar, dipingit, dan harus siap berpoligami dengan laki-laki yang tidak mereka kenal. Kartini berbicara tentang keinginannya mendobrak tradisi yang menghambat kemajuan. Dia akhirnya menyimpulkan: pendidikan mutlak perlu untuk mengangkat derajat perempuan Indonesia. Pengajaran kepada perempuan, secara tidak langsung, meningkatkan martabat bangsa.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e”Dari perempuanlah pertama-tama manusia itu menerima didikannya, di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berpikir, dan berkata-kata,” tulis Kartini dalam suratnya kepada Rosa Manuela Abendanon—lebih dikenal sebagai Nyonya Abendanon.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eEmpat tahun korespondensi yang luar biasa itu berlangsung. Surat terakhir dikirim pada 7 September 1904, saat Kartini hamil tua. Isinya ucapan terima kasih kepada Nyonya Abendanon atas baju yang dikirimnya untuk anak Kartini yang akan lahir. Sepuluh hari kemudian, Raden Ajeng Kartini wafat.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSurat-surat itu tak cuma disimpan sendiri oleh Abendanon. Tak berapa lama setelah Kartini wafat, Jacques Henry Abendanon menggagas ide untuk menerbitkan surat-surat yang dikirim Kartini dalam bentuk buku. Dari hasil penerbitan buku, diharapkan bisa terkumpul dana untuk mendirikan sekolah seperti dicita-citakan mendiang sahabatnya itu. Maka kemudian terbitlah sebuah buku berbahasa Belanda berjudul Door Duisternis Tot Licht pada April 1911. Buku itu tidak cuma berisi surat-surat Kartini yang diterima keluarga Abendanon, tapi juga surat-surat putri Jawa itu kepada beberapa sahabatnya.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003ePerempuan yang lahir pada 21 April 1879 di Mayong, Jepara, itu memang tak pernah berhenti menulis. Semasa hidupnya yang singkat, dia membuat ratusan surat. Ketika jutaan orang Indonesia buta huruf pada akhir abad ke-19 itu, kemampuan Kartini dalam membaca dan mengolah tulisan terbilang istimewa. Kartini memang sempat menamatkan pendidikan di Europe Lagere School, yang memakai bahasa pengantar Belanda—suatu kesempatan yang amat langka bagi gadis pribumi.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSurat yang dia tulis itu kebanyakan ditujukan kepada para sahabat penanya, yang sebagian besar orang Belanda. Sahabat pena pertamanya adalah Stella M. Zeehandelaar, yang dikenal melalui majalah De Hollandse Lelie, majalah wanita yang waktu itu amat populer di Negeri Belanda. ”Panggil aku Kartini saja,” begitu tulis Kartini dalam surat perkenalannya kepada perempuan Belanda keturunan Yahudi itu.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eStella adalah anggota militan pergerakan feminis di Negeri Belanda saat itu. Ia bersahabat dengan Ir H.H. van Kol, Wakil Ketua Partai Sosialis Belanda (SDAQ) di Tweede Kamer (Parlemen). Van Kol dan istrinya kemudian juga menjadi sahabat Kartini. Sahabat pena Kartini yang lain adalah Nyonya M.C.E. Ovink, istri asisten residen yang pernah bertugas di Jepara, serta Dr N. Adriani, ahli bahasa yang gemar surat-menyurat.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eTak semua surat yang dikirimnya dipublikasikan. Stella, yang diduga punya 20 surat Kartini, hanya meminjamkan 14 pucuk. Ada pula yang enggan meminjamkan sama sekali. Buku Door Duisternis Tot Licht akhirnya hanya memuat 100 surat, dan 53 di antaranya merupakan surat Kartini untuk Tuan dan Nyonya Abendanon. Walau begitu, buku ini cukup laris untuk ukuran saat itu. Tulisan-tulisannya dibaca oleh peminat masalah kebebasan perempuan. Dalam dua tahun dicetak ulang dua kali dengan jumlah oplah 8.000 eksemplar, sampai 1976 buku itu sudah naik cetak lima kali.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eDoor Duisternis Tot Licht menarik juga perhatian dunia internasional. Berturut-turut majalah Atlantic Monthly di New York pernah menerbitkannya dalam terjemahan bahasa Inggris, kemudian menerbitkannya khusus dalam bentuk buku dengan Judul Letters of a Javanese, yang diterjemahkan oleh Agnes Louise Syammers pada 1920.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eDi Indonesia, pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Habis Gelap Terbitlah Terang juga dipakai Armijn Pane sebagai judul ketika menerjemahkan buku itu pada 1938. Buku setebal 214 halaman itu disajikan dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Menurut sastrawan pelopor Pujangga Baru itu, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSejarawan George McTurnan Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia, mengatakan bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia, melainkan Kartini. Profesor Ahmad M. Suryanegara, dalam buku Menemukan Sejarah, menuturkan Kartini tidak hanya berjuang untuk perempuan, tapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003ePemikiran Kartini yang tertuang lewat surat-suratnya memang tak terungkap secara lengkap. ”Surat-surat Kartini dalam Habis Gelap Terbitlah Terang laksana sumur yang dipenuhi gagasan-gagasan progresif yang menjangkau masa depan,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta beberapa waktu lalu.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eDi samping Habis Gelap Terbitlah Terang, surat-surat Kartini muncul dalam bentuk lain. Pramoedya Ananta Toer, misalnya, menulis buku Panggil Aku Kartini Saja. Profesor Sulastin Sutrisno, guru besar dari Universitas Gadjah Mada, selanjutnya menerjemahkan versi lengkap Door Duisternis Tot Licht, yang diterbitkan dengan judul Surat-surat Kartini pada 1979. ”Dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, surat-surat Kartini akan dapat dibaca oleh banyak orang,” kata Sulastin saat itu.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eBuku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900–1904. Penerjemahnya Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Nyonya Abendanon, tapi juga semua surat asli Kartini pada keluarga Abendanon. Termasuk surat hasil temuan terakhir, Desember 1987.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003ePada buku terjemahan Joost Coté, memang ditemukan surat-surat yang tergolong ”sensitif” dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Buku itu mencakup 108 surat dan kartu pos Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya, J.H. Abendanon, serta surat-surat yang dibuat Roekmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie. Seperti kata Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya memang sudah saatnya diungkap.\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-3875302884975738509?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/3875302884975738509/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d3875302884975738509\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3875302884975738509"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3875302884975738509"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2009/04/surat-tentang-kebebasan-dan-cita-cita.html","title":"Surat tentang Kebebasan dan Cita-cita"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/Se_uGQJN9eI/AAAAAAAAAI8/f3EtRPrK3Z8/s72-c/photo12.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-4787895729361382340"},"published":{"$t":"2009-03-09T00:02:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2009-03-09T00:12:52.470+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"PATHWAY OF REGGAE"},"content":{"type":"html","$t":"   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 2.4  (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e   \u003cp  style\u003d\"margin-bottom: 0in;font-family:georgia;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eOleh Bashito\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp  style\u003d\"margin-bottom: 0in;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003eAku milik alam dan alam milikku. Aku raja yang dilahirkan tanpa kerajaan, Aku pejuang tanpa batas dan diperjuangkan walau tidak ada, maka aku selalu mati dalam kehidupan agar kematianku selalu jadi kehidupan.\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"margin-bottom: 0in;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e   \u003cp  style\u003d\"margin-bottom: 0in;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003e	Inilah aku dalam takdir, aku memiliki cinta dan dicinta untuk mencintai yang terhormat dan yang termulia. Dengan nafas dan nyawa dan Tuhan sebagai penunjuk jalan walau aku sering bertindak tidak wajar, inilah aku sebagai tameng manusia terhadap apa yang aku lihat. Karena takdirku aku akan mengubah sejarah dan sejarah akan merubah caraku berpandang. Dengan ini hari aku bukan siapa-siapa yang akan membawaku ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu, karena yang aku tahu hanya yang aku lihat dan aku rasa, dan tak pernah dirasa oleh siapa-siapa. aku hanya lilin kecil yang berpijak pada tanah, sementara bumi bercahaya terhadap ciptaan.\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp face\u003d\"georgia\" style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"right\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp  style\u003d\"margin-bottom: 0in;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e	 – \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eLong live Rasta and for Rasta I live – RASTA FAMILY JAKARTA\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eReggae adalah seperti sebuah negara kecil nan damai, reggae tumbuh dalam hati manusia-manusia yang menjalankan ritual musiknya. Dimanapun mereka berada,  Aliran musik yang kita sadap dan adopsi dari negeri Jamaika hingga menyebar keseluruh penjuru dunia yang memadukan beberapa unsur musik dari Ska, Ragga, Blues, dan Jazz hingga tercipta irama reggae, sampai pada telinga kita umumnya masyarakat kota kecil yang jauh dari tempat asal musik itu sendiri dan khususnya pada pecinta musik reggae yang menyebar di pare dan sekitarnya.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	Sementara existensi Paguyuban reggae sendiri memiliki motivasi yang sederhana, yaitu menyatukan jiwa-jiwa penikmat reggae entah itu yang menganggap reggae sekedar hiburan ataupun sampai pada panggilan jiwa, yang artinya sudah memahami sedikit banyak tentang reggae dan rastafari.  Di satu sisi Paguyuban reggae Pare mengangkat musik reggae sebagai bagian filosofi yang positive dengan tujuan terwujudnya hak asasi dan kebebasan manusia dalam berekspresi dan mengeksplorasi diri dalam bentuk kreatifitas positive tanpa memandang dari mana mereka berasal.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	Seperti yang kita ketahui, Indonesia begitu luas, dari sabang sampai merauke, dari selatan Timor sampai utara Talaut,warna-warni beragam budaya, bahasa, ada di dalamnya,adat istiadat dari yang tradisional sampai modern menyebar di bumi nusantara.Warisan dari zaman ke zaman masih dipertahankan dari generasi ke generasi walau sebagian mulai pudar karena pengaruh budaya luar yang masuk ke tanah air kita, dan secara tidak langsung telah mempengaruhi gaya hidup dan kehidupan sosial yang majemuk serta mewarnai perkembangan kebudayaan bangsa indonesia dalam beberapa  dekade terakhir. Persilangan penduduk, urbanisasi dan mulainya kesadaran diri masyarakat kita tentang ragam budaya bangsa ini telah membawa kita pada satu titik pilihan dalam menentukan sikap.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	Sekali lagi paguyuban reggae yang bermuara di Pare telah berusaha memberikan sumbangsih pada perkembangan seni dan budaya tanah air, dengan mengajak pecinta reggae seluruh jawa timur untuk (guyub rukun) menyatu dalam damai seperti semangat reggae itu sendiri yang selalu menyerukan kedamaian. Dan memperkenalkan daerah jawa timur ke kancah nasional atau ke mata internasional.\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\"\u003e	SALAM BUDAYA\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-family: georgia;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003ci\u003ePenggagas Paguyuban Reggae Jawa Timur\u003c/i\u003e  \u003c/p\u003e \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-4787895729361382340?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/4787895729361382340/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d4787895729361382340\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/4787895729361382340"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/4787895729361382340"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2009/03/pathway-of-reggae.html","title":"PATHWAY OF REGGAE"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-3105947524791024279"},"published":{"$t":"2009-03-08T23:58:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2009-03-09T00:00:20.348+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"OBROLAN"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: center; font-family: georgia;\"\u003eOleh Bungkapit 21\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cbr /\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: right; font-style: italic; font-family: georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e“Gagasan besar lahir dari obrolan…”\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: georgia;\"\u003eSepulang “mangkal” dari warung kopi di Garuda, dengan menaiki motor, tanpa sengaja saya membaca sebait kalimat tersebut tertulis dalam kaos hitam milik orang yang berlalu di depan saya. Selintas bait tersebut tak begitu menarik perhatian saya. Namun, dalam sekejap bait tersebut memberikan satu kesadaran, satu “pertanda” bahwa memang ide-ide besar kadangkala lahir dari sebuah obrolan ringan; sambil meminum kopi, menghisap sebatang rokok atau bisa juga sambil menikmati selepek jadah bakar. Percaya atau tidak? seringkali tanpa disadari seperti itulah kenyataannya. Obrolan mampu menciptakan mimpi, obrolan mampu memberikan jalan keluar, obrolan mampu memberikan motivasi dan obrolan pun mampu membuat seseorang meraih takdir.\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: georgia;\"\u003eAdalah Santiago seorang anak lelaki penggembala dan pengelana – dalam novel Sang Alchemist karya Paulo Coelho – yang tiba-tiba resah dengan mimpi-mimpinya yang datang berulang-ulang: mimpi tentang harta karun. Karena terlalu resahnya, dia menemui seorang perempuan tua peramal untuk menafsirkan mimpinya tersebut. Jawaban yang diperolehnya tidak begitu memuaskan, justru semakin meresahkan dan membuatnya bertanya-tanya. Sampai akhirnya, di sebuah kedai dia bertemu dengan seorang lelaki tua yang bernama Melkisedek. Dari obrolan dengan lelaki tua inilah Santiago dihantar untuk mewujudkan mimpi dan meraih takdirnya. \u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: georgia;\"\u003eMemang tidak mudah mewujudkan sebuah mimpi. Awalnya seseorang akan mendapatkan keberuntungan awal dari mimpi yang diangankannya. Di titik inilah keyakinan dan optimisme dirangsang. Namun kemudian yang terjadi adalah banyaknya jalan berliku dan tantangan yang harus dihadapi. Semakin sulit dan berat halangan yang mendera, semakin dekat pula mimpi tersebut di depan mata. Kekuatan negativ inilah yang sebenarnya menjadi daya magis yang mendorong seseorang agar bertahan mewujudkan mimpinya tersebut. Karena ketika keyakinan untuk meraih sesuatu begitu kuat tertanam dalam hati, maka segenap alam pun akan bersatu membantu mewujudkannya. Begitulah yang terjadi dengan Santiago. Sampai kemudian dia bertemu dengan Sang Alchemist. Dengan segelas anggur sambil menikmati pemandangan gurun di malam hari berterang cahaya bulan yang mewujud penuh, Santiago banyak belajar dari nasehat-nasehat dan pentunjuk-petunjuk Sang Alchemist. Dari nasehat dan petunjuk serta pengelanaannya dengan Sang Alchemsit, Santioago akhirnya berhasil mewujudkan mimpi dan meraih takdirnya. \u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: georgia;\"\u003eMembaca sebait kalimat di atas pun membuat saya tersenyum. Memaksa saya untuk merefleksi diri. Betapa banyak “pertanda-pertanda” yang datang dan pergi begitu saja dari buah nongkrong di beberapa warung kopi dan tempat ngobrol lainnya. Yang kadangkala diantaranya saya sadari dan tidak sedikit pula yang saya acuhkan. Banyaknya “pertanda” yang saya acuhkan tadi bisa jadi karena kekurang pekaan saya untuk membaca “pertanda” tersebut, yang sebenarnya menjadi maktub dalam hidup saya. \u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family: georgia;\"\u003eAh, saya jadi teringat definisi klasik Aristoteles tentang hakikat manusia bahwa dia adalah makhluk hidup yang memiliki logos. Dimana dalam tradisi barat didefinisikan sebagai animal rationale, makhluk rasional dengan kemampuannya untuk berpikir yang membedakan dengan makhluk lain. Namun, sesungguhnya makna pertama dari logos ini adalah bahasa. Artinya, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki bahasa. Karena itu, sepertinya saya harus belajar lebih peka lagi terhadap bahasa kehidupan. Agar saya lebih mampu dengan jeli melihat dan membaca “pertanda-pertanda” di setiap obrolan dengan Sang Alchemist-Sang Alchemist di sekitar saya yang mampu melahirkan gagasan-gagasan besar untuk perubahan. Dengan keniscayaan dan ainul yaqin dalam hati, setiap mimpi saya pasti bisa terwujud dan takdir bisa saya raih. Karena saya tidak mau menyerah pada nasib. Bagaimana dengan sampeyan?           \u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-3105947524791024279?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/3105947524791024279/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d3105947524791024279\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3105947524791024279"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3105947524791024279"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2009/03/obrolan.html","title":"OBROLAN"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-374432747756136213"},"published":{"$t":"2009-01-05T23:35:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-05T23:47:52.553+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"DEKONSTRUKSI DERRIDA DAN PENGARUHNYA PADA KAJIAN BUDAYA "},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SWI3oeSyg-I/AAAAAAAAAHk/NsTymPLl1gU/s1600-h/Derrida.jpg\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 278px; height: 288px;\" src\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SWI3oeSyg-I/AAAAAAAAAHk/NsTymPLl1gU/s320/Derrida.jpg\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5287850080952550370\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003cdiv style\u003d\"text-align: left; font-weight: bold;\"\u003e   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 2.4  (Linux)\"\u003e 	   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 2.4  (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eOleh Satrio Arismunandar\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003c/div\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in; font-weight: bold;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eRiwayat Singkat \u003c/span\u003e \u003c/p\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eJacques Derrida (1930–2004) adalah seorang filsuf Prancis, yang dianggap sebagai tokoh penting post-strukturalis-posmodernis. Derrida lahir dalam lingkungan keluarga Yahudi pada 15 Juli 1930 di Aljazair. Pada tahun 1949 ia pindah ke Prancis, di mana ia tinggal sampai akhir hayatnya. Ia kuliah dan akhirnya mengajar di École Normale Supérieure di Paris. Derrida pernah mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge. Ia meninggal dunia karena penyakit kanker pada 2004.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eDerrida muda dibesarkan dalam lingkungan yang agak bersikap diskriminatif. Ia mundur atau dipaksa mundur dari sedikitnya dua sekolah, ketika ia masih anak-anak, semata-mata karena ia seorang Yahudi. Ia dipaksa keluar dari sebuah sekolah, karena ada batas kuota 7 persen bagi warga Yahudi. Meskipun Derrida mungkin tidak akan suka, jika dikatakan bahwa karyanya diwarnai oleh latar belakang kehidupannya ini, pengalaman kehidupan ini tampaknya berperan besar pada sikap Derrida yang begitu menekankan pentingnya kaum marginal dan yang lain, dalam pemikirannya kemudian.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eDerrida dua kali menolak posisi bergengsi di Ecole Normale Superieure, di mana Sartre, Simone de Beauvoir, dan mayoritas kaum intelektual serta akademisi Perancis memulai karirnya. Namun, akhirnya ia menerima posisi itu pada usia 19. Ia kemudian pindah dari Aljazair ke Perancis, dan segera sesudahnya ia mulai berperan utama di jurnal kiri Tel Quel.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eKarya awal Derrida di bidang filsafat sebagian besar berkaitan dengan fenomenologi. Latihan awalnya sebagai filsuf dilakukan melalui kacamata Edmund Husserl. Inspirasi penting lain bagi pemikiran awalnya berasal dari Nietzsche, Heidegger, De Saussure, Levinas dan Freud. Derrida mengakui utang budinya kepada para pemikir itu dalam pengembangan pendekatannya terhadap teks, yang kemudian dikenal sebagai 'dekonstruksi'.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003ePada 1967, Derrida sudah menjadi filsuf penting kelas dunia. Ia menerbitkan tiga karya utama (Of Grammatology, Writing and Difference, dan Speech and Phenomena). Seluruh karyanya ini memberi pengaruh yang berbeda-beda, namun Of Grammatology tetap karyanya yang paling terkenal. Pada Of Grammatology, Derrida mengungkapkan dan kemudian merusak oposisi ujaran-tulisan, yang menurut Derida telah menjadi faktor yang begitu berpengaruh pada pemikiran Barat.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e   \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eKeasyikan Derrida dengan bahasa dalam teks ini menjadi ciri khas sebagian besar karya awalnya. Sejak penerbitan karya-karya tersebut serta teks-teks penting lain (termasuk Dissemination, Glass, The Postcard, Spectres of Marx, The Gift of Death, dan Politics of Friendship), dekonstruksi secara bertahap meningkat, dari memainkan peran utama di benua Eropa, kemudian juga berperan penting dalam konteks filosofis Anglo-Amerika. Peran ini khususnya terasa di bidang kritik sastra, dan kajian budaya, di mana metode analisis tekstual dekonstruksi memberi inspirasi kepada ahli teori, seperti Paul de Man.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0in;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eDekonstruksi sering menjadi subyek kontroversi. Ketika Derrida diberi gelar doctor honoris causa di Cambridge pada 1992, banyak protes bermunculan dari kalangan filsuf “analitis.” Sejak itu, Derrida juga mengadakan banyak dialog dengan filsuf-filsuf seperti John Searle, yang sering mengeritiknya...\u003ca style\u003d\"font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);\" href\u003d\"http://bungkapit21artikel.blogspot.com/\"\u003eselengkapnya \u003c/a\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-374432747756136213?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/374432747756136213/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d374432747756136213\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/374432747756136213"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/374432747756136213"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2009/01/dekonstruksi-derrida-dan-pengaruhnya.html","title":"DEKONSTRUKSI DERRIDA DAN PENGARUHNYA PADA KAJIAN BUDAYA "}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SWI3oeSyg-I/AAAAAAAAAHk/NsTymPLl1gU/s72-c/Derrida.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-3044615427297736564"},"published":{"$t":"2009-01-04T00:35:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2009-01-04T00:49:11.596+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Sejarah Rastafarian \u0026 Legalisasi Ganja"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SV-kzBMO5nI/AAAAAAAAAHI/hpoYhvPe4PY/s1600-h/Logo20JahLive.png\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 307px; height: 320px;\" src\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SV-kzBMO5nI/AAAAAAAAAHI/hpoYhvPe4PY/s320/Logo20JahLive.png\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5287125683956278898\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eOleh: PM Marxis Manley (Jamaika)\u003c/span\u003e \u003c/div\u003e \u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKaum Rastafarian sudah ada sejak tahun 1930-an dan mencakup sekitar lima persen dari 2,5 juta penduduk Jamaika. Sebelum Michael Manley dari Partai Rakyat Nasional (PNP) yang beraliran Marxis berkuasa, kaum Rastafarian dipermalukan aparat kepolisian, antara lain dengan menjambak rambut ”dreadlock” (gimbal) mereka yang kemudian dicukur habis. Dalam upaya meninggikan martabat kaum Rastafarian, Perdana Menteri Manley mengeluarkan keputusan yang menghalalkan penggunaan ganja. Kaum Rastafarian pun diberikan kesempatan untuk berziarah ke Ethophia, Tanah Perjanjian, Zion, di Afrika.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAjaran Rastafari tumbuh berkembang seiring dengan perkembangan musik reggae dari ghetto (wilayah pengucilan) di Kingston menuju panggung dunia. Nilai spritual Rastafari tumbuh secara inheren dalam musik reggae awal. Berbeda dengan ajaran agama-agama besar dunia dalam peradaban modern yang disebarkan melaui organize religion, Rastafari tersebar ke seantero dunia dalam bentuk yang\u003c/span\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003epurba: lewat musik dan kata-kata Bob Marley.\u003c/span\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e \u003c/span\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKAUM Rastafarian percaya bahwa Tuhan adalah roh dan roh tersebut bermanifestasi kepada Yang Mulia Kaisar Emperor Haile Selassie I. Kaum Rastafarian menyakini bahwa Jesus adalah keturunan langsung raja Daud dan berkulit hitam. Kaum Rastafarian menyakini bahwa dinasti Sulaiman Ethiopia merupakan representasi langsung raja Daud. Kaum Rastafarian yakin bahwa mereka adalah suku asli Israel yang hilang diceraiberaikan oleh Babylon sampai kemunculan Yang Mulia Kaisar Haile Selassie I. Kaum Rastafarian percaya bahwa Tuhan akan mengembalikan mereka ke Zion (Kaum Rastafarian mengangap Ethiopia sebagai Zion).\u003c/span\u003e.. \u003ca href\u003d\"http://bungkapit21musik.blogspot.com\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e \u003c/div\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e \u003c/span\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-3044615427297736564?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/3044615427297736564/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d3044615427297736564\u0026isPopup\u003dtrue","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3044615427297736564"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3044615427297736564"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2009/01/sejarah-rastafarian-legalisasi-ganja.html","title":"Sejarah Rastafarian \u0026 Legalisasi Ganja"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SV-kzBMO5nI/AAAAAAAAAHI/hpoYhvPe4PY/s72-c/Logo20JahLive.png","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-217286411439007626"},"published":{"$t":"2008-12-13T00:41:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2008-12-13T00:48:04.771+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Identitas Perempuan dalam Kultur Kontemporer"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cmeta equiv\u003d\"Content-Type\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e\u003cmeta name\u003d\"ProgId\" content\u003d\"Word.Document\"\u003e\u003cmeta name\u003d\"Generator\" content\u003d\"Microsoft Word 12\"\u003e\u003cmeta name\u003d\"Originator\" content\u003d\"Microsoft Word 12\"\u003e\u003clink style\u003d\"font-family: georgia;\" rel\u003d\"File-List\" href\u003d\"file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml\"\u003e\u003clink style\u003d\"font-family: georgia;\" rel\u003d\"themeData\" href\u003d\"file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx\"\u003e\u003clink style\u003d\"font-family: georgia;\" rel\u003d\"colorSchemeMapping\" href\u003d\"file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml\"\u003e\u003c!--[if gte mso 9]\u003e\u003cxml\u003e  \u003cw:worddocument\u003e   \u003cw:view\u003eNormal\u003c/w:View\u003e   \u003cw:zoom\u003e0\u003c/w:Zoom\u003e   \u003cw:trackmoves/\u003e   \u003cw:trackformatting/\u003e   \u003cw:punctuationkerning/\u003e   \u003cw:validateagainstschemas/\u003e   \u003cw:saveifxmlinvalid\u003efalse\u003c/w:SaveIfXMLInvalid\u003e   \u003cw:ignoremixedcontent\u003efalse\u003c/w:IgnoreMixedContent\u003e   \u003cw:alwaysshowplaceholdertext\u003efalse\u003c/w:AlwaysShowPlaceholderText\u003e   \u003cw:donotpromoteqf/\u003e   \u003cw:lidthemeother\u003eEN-US\u003c/w:LidThemeOther\u003e   \u003cw:lidthemeasian\u003eX-NONE\u003c/w:LidThemeAsian\u003e   \u003cw:lidthemecomplexscript\u003eX-NONE\u003c/w:LidThemeComplexScript\u003e   \u003cw:compatibility\u003e    \u003cw:breakwrappedtables/\u003e    \u003cw:snaptogridincell/\u003e    \u003cw:wraptextwithpunct/\u003e    \u003cw:useasianbreakrules/\u003e    \u003cw:dontgrowautofit/\u003e    \u003cw:splitpgbreakandparamark/\u003e    \u003cw:dontvertaligncellwithsp/\u003e    \u003cw:dontbreakconstrainedforcedtables/\u003e    \u003cw:dontvertalignintxbx/\u003e    \u003cw:word11kerningpairs/\u003e    \u003cw:cachedcolbalance/\u003e   \u003c/w:Compatibility\u003e   \u003cw:browserlevel\u003eMicrosoftInternetExplorer4\u003c/w:BrowserLevel\u003e   \u003cm:mathpr\u003e    \u003cm:mathfont val\u003d\"Cambria Math\"\u003e    \u003cm:brkbin val\u003d\"before\"\u003e    \u003cm:brkbinsub val\u003d\"--\"\u003e    \u003cm:smallfrac val\u003d\"off\"\u003e    \u003cm:dispdef/\u003e    \u003cm:lmargin val\u003d\"0\"\u003e    \u003cm:rmargin val\u003d\"0\"\u003e    \u003cm:defjc val\u003d\"centerGroup\"\u003e    \u003cm:wrapindent val\u003d\"1440\"\u003e    \u003cm:intlim val\u003d\"subSup\"\u003e    \u003cm:narylim val\u003d\"undOvr\"\u003e   \u003c/m:mathPr\u003e\u003c/w:WordDocument\u003e \u003c/xml\u003e\u003c![endif]--\u003e\u003c!--[if gte mso 9]\u003e\u003cxml\u003e  \u003cw:latentstyles deflockedstate\u003d\"false\" defunhidewhenused\u003d\"true\" defsemihidden\u003d\"true\" defqformat\u003d\"false\" defpriority\u003d\"99\" latentstylecount\u003d\"267\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"0\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Normal\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 7\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 8\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 9\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 7\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 8\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 9\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"35\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"caption\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"10\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Title\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"1\" name\u003d\"Default Paragraph Font\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"11\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Subtitle\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"22\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Strong\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"20\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Emphasis\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"59\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Table Grid\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Placeholder Text\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"1\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"No Spacing\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Revision\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"34\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"List Paragraph\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"29\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Quote\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"30\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Intense Quote\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"19\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Subtle Emphasis\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"21\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Intense Emphasis\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"31\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Subtle Reference\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"32\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Intense Reference\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"33\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Book Title\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"37\" name\u003d\"Bibliography\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"TOC Heading\"\u003e  \u003c/w:LatentStyles\u003e \u003c/xml\u003e\u003c![endif]--\u003e\u003cstyle\u003e \u003c!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:\"Cambria Math\"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:\"\"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:\"Times New Roman\",\"serif\"; 	mso-fareast-font-family:\"Times New Roman\";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --\u003e \u003c/style\u003e\u003c!--[if gte mso 10]\u003e \u003cstyle\u003e  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:\"Table Normal\"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:\"\"; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:\"Calibri\",\"sans-serif\"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:\"Times New Roman\"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:\"Times New Roman\"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} \u003c/style\u003e \u003c![endif]--\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: center; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eOleh: Ahmad Ikhwan Susilo\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: right; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e“Jika engkau melihat wanita sebagai subyek, maka itu adalah rasa perkawanan.\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: right; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eJika engkau melihat wanita sebagai obyek maka sesungguhnya itu hawa nafsu. Sebaliknya jika engkau melihat wanita sebagai subyek sekaligus obyek maka itu adalah rasa cinta...”\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e(entah siapa)\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eGlobalisasi dengan kekuatan teknologi dan informasi yang semakin lama semakin maju pesat telah membuat sekat budaya yang dulu masih tertutup kini mengalami pergeseran menjadi ruang yang lebih terbuka. Pergeseran ini \u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003ememunculkan perubahan yang sangat signifikan. Arus transformasi nila-nilai budaya yang terjadi telah memunculkan satu bentuk karakter-karakter manusia yang baru dalam masyarakat, yaitu manusia \u003ci\u003eperformer\u003c/i\u003e; manusia yang memainkan dan mengontrol peran mereka sendiri. Dan salah satunya juga terjadi pada perempuan.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e                                                                                                       \u003c/span\u003e\u003cb\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDi tahun 90-an budaya posmodern telah memperlihatkan kemunculan ikon perempuan baru: tangguh, seksi, dan acuh tak acuh, tidak melihat dirinya sendiri sebagai korban, dan menginginkan kuasa; singkatnya, mendekonstruksi budaya perempuan(\u003ci\u003ewomen’s culture\u003c/i\u003e). Pergeseran dari feminisme ke posfeminisme pun terjadi. Representasi dari perempuan posfeminis ini bisa kita lihat dalam keseharian kita di Indonesia, ditandai dengan munculnya para perempuan pengarang, perempuan karir, artis, model, sutradara, dan lain sebagainya. Inilah gambaran perempuan yang aktif secara profesional dan yang ketika mereka harus setegas profesional laki-laki. Gambaran perempuan seperti itu saat sekarang lebih mudah kita temui daripada para perempuan feminis liberal, radikal, dan marxis.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e  \u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003ePerempuan dan Konstruksi Posfeminisme\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003ePosfeminisme merupakan suatu istilah yang saat ini ramai diperdebatkan. Ia bisa berarti reaksi buruk(\u003ci\u003ebacklash\u003c/i\u003e) media massa melawan perjuangan feminisme tradisional yang membela persamaan perempuan dan menghadapi realitas patriarki yang masih berakar dalam masyarakat serta sebagai bentuk perlawanan atas marginalisasi kaum perempuan. Sejalan dengan fenomena tersebut, salah satu premis kunci dalam konstruksi posfeminisme adalah tentang pilihan-pilihan hidup perempuan yang telah meninggalkan model pergerakan perempuan pada era 8o-an yang terkesan bahwa perempuan terlalu ambisius ihwal slogan ‘memiliki semuanya’.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eMunculnya istilah posfeminisme menjadi nuansa baru pemikiran dan gerakan perempuan memasuki abad ke-21 yang terus-menerus merespon kenyataan sosial zamannya dalam keinginan untuk bergerak melampaui kesadaran dan pendirian yang dipegang oleh para feminis sebelumnya. Inilah era untuk keluar dari apatisme politik pada waktu para feminis terdahulu telah menukar cita-cita politik mereka demi mobilitas karier, dan memandang feminisme sebagai anakronisme. Sementara wacana publik menyatakan secara tidak langsung bahwa karena wanita telah mencapai kesetaraannya dengan laki-laki, mereka tak perlu lagi gerakan protes( Subandy: 2004).\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eNamun yang perlu dipahami di sini adalah kemunculan posfeminis ini tidak dalam arti ‘anti feminis’, ia hanya sebagai suatu evolusi gerak perlawanan dalam tubuh feminis sendiri yang menenatang hegemoni bahwa penindasan patriarki dan imperialis adalah pengalaman penindasan yang universal. Karena pada kenyataannya, perempuan sendiri tersebar dalam berbagai kelas sosial, pengelompokan rasial dan etnis, komunitas seksual, subkultur, dan agama yang artinya tiap perempuan akan mengalami dan merasakan pengalaman sosial dan kesadaran personal yang berbeda pula (Ann Brooks:2005). Hal inilah yang tetap memungkinkan bahwa suara-suara perempuan yang selama ini masih termajinalkan akan tetap mendapatkan tempat dalam wacana publik.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eEksploitasi Media Atas Perempuan\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDi masa transisi menuju demokrasi seperti saat sekarang, dimana media massa baik cetak maupun elektronik sedang mengalami kebebasannya dalam hal penyiaran maupun pemberitaan. Eksplorasi yang dilakukan oleh media – kita sadari atau tidak – seringkali menyudutkan kaum perempuan. Karena kaum perempuan di ekspos bukan sebagai subyek melainkan sebagai obyek. Hal ini tampak dalam media cetak yang berbau pornografi, porno aksi dan seks. Juga dalam media elektronik bisa kita lihat bagaimana peran perempuan di sana yang memunculkan adanya persepsi masyarakat terhadap ‘perempuan yang ideal’.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003ePersaingan pun muncul di tengah maraknya industri televisi terutama televisi swasta yang jumlahnya terus bertambah. Masing-masing ingin menarik perhatian pemirsa sebanyak mungkin sehingga mereka berlomba-lomba memamerkan tayangannya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDi sinilah kapitalisme berbicara. Uang adalah segalanya sehingga para produser televisi berusaha membidik pangsa pasar dengan mengerahkan segenap modal dan kemampuan. Karena mayoritas produser televisi adalah laki-laki sehingga mereka kemudian mengeksploitasi perempuan dalam tayangan yang membidik pasar laki-laki. Melalui tayangan-tayangan yang mengudara 24 jam, televisi selalu menyuguhkan perempuan yang tinggi, cantik, dan langsing.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eBerdasarkan penelitian dan hasil pengamatan, dari lima menit iklan(\u003ci\u003ecomercial break\u003c/i\u003e) yang disiarkan hampir semuanya mencitrakan perempuan. Kita bisa lihat iklan sabun mandi dan pemutih serta pemandu kuis tengah malam yang menampilkan \u003cspan style\u003d\"color:black;\"\u003eDian Sastro, Bunga Citra Lestari, Tamara Blezinsky\u003c/span\u003e, dan Yeyen. Hampir semua acara televisi selalu menyajikan citra perempuan. Mau tidak mau sadar atau tidak perempuan saat ini menjadi barang hiburan. Semua yang disuguhkan dalam televisi selalu menampilkan perempuan yang ideal menurut perspektif masyarakat dan dengan demikian perempuan saat ini cenderung mencari dan mengejar label cantik yang dicitrakan oleh masyarakat. Akibatnya, seperti dalam pandangan posmo, orang akan kehilangan narasi diri, terciptanya budaya konsumtiv yang tinggi, sehingga seseorang tersebut sulit untuk memunculkan karakter original dalam diri dikarenakan terbunuhnya potensi, kreativitas dan imajinasi.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003ePerempuan akan rela mengorbankan uangnya untuk operasi plastik, menjalani program pemutihan kulit, pelangsingan tubuh, dan lain sebagainya. Mereka tidak sadar menjadi korban dari bayangan rasa ketakutan mereka sendiri, diperbudak oleh citra diri yang dipersepsikan salah oleh masyarakat.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDalam berbagai publikasi iklan, media juga selalu mengidentifikasi perempuan sebagai seorang istri yang hanya melakukan pekerjaan rumah tangga atau domestikasi perempuan seperti iklan susu, dimana ibulah yang membuatkan susu anaknya. Padahal pada praksisnya seorang bapak pun mampu melakukan hal tersebut. Sebuah iklan mobil keluarga menggambarkan bahwa seorang wanita selalu berada pada posisi kedua karena laki-laki yang selalu ditampilkan menonjol seperti menjadi sopir. Hal ini jelas sangat diskriminatif terhadap posisi seorang perempuan. Pencitraan terhadap perempuan seperti ini yang mengakibatkan bias gender.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eMemang peranan media dominan dalam membentuk watak dan pola pikir masyarakat. Hal yang tidak pernah kita pikirkan dari gambaran di atas yang syarat diskriminatif terhadap perempuan ditiru oleh masyarakat sehingga diskriminatif terhadap perempuan menjadi langgeng keberadaannya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eFakta yang terjadi kemudian hampir setiap hari berita tentang pencabulan, pemerkosaan, dan berbagai bentuk kekerasan terhadap anak perempuan sangat sering kita dengar. Ironisnya berita tersebut menjadi komoditas yang sangat diminati oleh mayoritas media yang ada. Sebuah kenyataan yang sangat menyudutkan bagi keberadaan kaum hawa. Porsi berita tentang tindak kekerasan terhadap perempuan ini tanpa pernah kita sadari telah membentuk sebuah opini bahwa seorang perempuan memang layak mendapat perlakuan yang kasar sehingga pada akhirnya kekerasan terhadap seorang perempuan menjadi hal yang lazim.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDampak langsung bagi perempuan adalah dia akan menjadi tersudut dan merasa kecil diri untuk berusaha menyejajarkan dirinya dengan kaum adam. Sebuah sikap pesimis kemudian muncul dari kaum perempuan bahwa sebaik apapun dia berusaha pada akhirnya juga akan menempati posisi setelah laki-laki.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e    \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eMedia massa sebagai salah satu alat dominan yang membentuk pola pikir dalam masyarakat seharusnya memberikan porsi yang setara dalam pencitraan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Realitasnya banyak hal yang tak mampu dilakukan seorang pria yang hanya dapat diperankan oleh seorang wanita. Sebuah fakta yang sudah selayaknya diangkat oleh media massa baik itu lewat berita, sinetron, ataupun segala acara lainnya. Dengan demikian peran posisi perempuan yang seharusnya sejajar dengan pria akan mampu diterima oleh masyarakat sebagai sebuah kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri. Sehingga tindak diskriminasi terhadap perempuan dapat lenyap dari kehidupan.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eMaskulinitas, Feminin, dan Budaya Patriarki\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eJika kita melihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini, budaya patriarki masih saja tertanam kuat. Kultur dalam masyarakat yang secara tegas membagi kewajiban antara laki-laki dan perempuan, membuat seorang perempuan pada akhirnya hanya berperan pada sektor domestik dalam keluarga. Sehingga ketika keadaan menuntut agar perempuan berperan dalam sektor publik mereka seolah tidak berdaya karena sejak awal perempuan memang tidak diberdayakan.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eJuliet Mitchell (1994) mendeskripsikan patriarki dalam suatu term psikoanalisis yaitu \" \u003ci\u003ethe law of the father \u003c/i\u003e\" yang masuk dalam kebudayaan lewat bahasa atau proses simbolik lainnya. Menurut Heidi Hartmann (1992), salah seorang feminis sosialis, patriarki adalah relasi hirarkis antara laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih dominan dan perempuan menempati posisi subordinat. Menurutnya, patriarki adalah suatu relasi hirarkis dan semacam forum solidaritas antar laki-laki yang mempunyai landasan material serta memungkinkan mereka untuk mengontrol perempuan. Sedangkan menurut Nancy Chodorow (1992), perbedaan fisik secara sistematis antara laki-laki dan perempuan mendukung laki-laki untuk menolak feminitas dan untuk secara emosional berjarak dari perempuan dan memisahkan laki-laki dan perempuan. Konsekuensi sosialnya adalah laki-laki mendominasi perempuan.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eSuperioritas laki-laki atas perempuan bisa dirunut mulai dari jaman penciptaan Adam dan Hawa, jaman filosofi Yunani Kuno sampai jaman modern. Laki-laki dan perempuan tidak hanya dianggap sebagai makhluk yang berbeda, tapi juga sebagai seks yang berlawanan. Sebuah pertemuan antara dunia laki-laki dan perempuan adalah \"pertempuran seks\" (\u003ci\u003ethe battle of the sexes\u003c/i\u003e). Laki-laki dan perempuan dipolarisasikan dalam kebudayaan sebagai \"berlawanan\" dan \"tidak sama\"(oposisi biner).\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDalam kehidupan, peranan seorang suami lebih utama daripada istri. Seorang perempuan dianggap tabu ketika harus bicara masalah yang lebih kompleks. Tugas seorang istri hanya berkutat pada urusan rumah tangga. Seorang anak menjadi nakal seolah-olah hanyalah kesalahan seorang ibu dan bapak lepas dari tanggung jawab. Budaya patriarki tersebut bahkan telah tertanam sejak kecil. Rumah adalah tempat dimana sosialisasi awal konstruksi patriarki itu terjadi. Para orang tua melakukan \"gender\" pertama-tama pada saat memberi nama kepada anak-anaknya. Anak laki-laki lazimnya diberi nama: Joko, Andi, Iwan, Budi, dan seterusnya. Sedangkan anak perempuan diberi nama: Sita, Wati, Ani, Yuli, Rina, dan lain sebagainya. Anak laki-laki belajar untuk menjadi \"maskulin\", dan anak perempuan belajar untuk menjadi \"feminin\" dari hadiah-hadiah yang diberikan oleh ayah-ibu dan teman-teman dekat pada saat ulang tahun. Mobil-mobilan dan robot untuk anak-anak laki-laki, dan boneka serta bunga untuk anak perempuan.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eHal ini berlanjut juga untuk persoalan perlakuan ayah-ibu terhadap anak-anaknya. Anak laki-laki diajari untuk bisa membetulkan genteng yang bocor atau perangkat listrik yang rusak, sementara anak perempuan belajar memasak dan menyulam. Para orang tua cemas dan gelisah jika anak-anak mereka tidak bertingkah laku sesuai dengan garis konstruksi sosial yang telah menetapkan bagaimana seharusnya anak laki-laki dan anak perempuan itu bertingkah laku. Hal serupa juga terjadi di institusi sekolah. Buku-buku pelajaran SD, tanpa disadari bersifat patriarkis. Buku pelajaran bahasa Indonesia misalnya, sering mengambil contoh-contoh kalimat seperti: Wati Memasak di Dapur, Budi Bermain Layang-layang, dsb. Kalimat-kalimat kategoris bernada manipulatif, yang mengkotak-kotakkan fungsi laki-laki dan perempuan sesuai nilai-nilai kepantasan tertentu yang berlaku di masyarakat: pekerjaan apa yang lazim dikerjakan anak laki-laki, dan apa yang lazim dikerjakan oleh anak perempuan.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003ePada taraf minimal yang sangat lazim terjadi seorang bapak akan bangga ketika anaknya lahir laki-laki dan agak menyesal ketika anaknya perempuan. Sebuah fakta yang menggambarkan diskriminasi terhadap perempuan sudah dia alami sejak ia ditakdirkan lahir di muka bumi ini. Bisa kita lihat dengan jelas bahwa perempuan hanya mempunyai tiga peranan yang seringkali kita sebut 3 M: \u003ci\u003emacak, manak, masak\u003c/i\u003e. Paradigma seperti inilah yang masih membelenggu dalam benak masyarakat Indonesia. Walau setinggi apapun perempuan itu bersekolah atau berpendidikan tinggi, tetap ia akan berperan 3M itu tadi.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eSimone de Beauvoir (1981) dalam \u003ci\u003eThe Second Sex \u003c/i\u003ebanyak mencontohkan wujud patriarki ini dalam bermacam-macam kebudayaan di dunia. De Beauvoir menyatakan dalam budaya Arab misalnya, seorang anak perempuan yang baru lahir sebisa mungkin akan disingkirkan karena semua bayi perempuan dianggap tidak menguntungkan dibandingkan jika mempunyai anak laki-laki. Masih menurut De Beauvoir, di negara-negara Asia dan di banyak kultur lain, ketika seorang anak perempuan masih berusia remaja, seorang ayah memegang kendali penuh atas hidupnya sampai ketika ia menikah dan kontrol itu akan beralih ke tangan suaminya. Di Tunisia, masih jadi pemandangan sehari-hari disana dimana para istri bekerja keras menyiapkan makanan di dapur atau sibuk mengurus anak-anaknya sementara para suami, si laki-laki asyik bergerombol dengan teman-temannya, sesama laki-laki di warung-warung di pasar, membicarakan dan mendiskusikan persoalan dunia.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"margin: 5pt 0cm; text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDengan kondisi yang seperti ini, mengakibatkan masih seringkalinya terjadi kekerasan terhadap perempuan di dalam keluarga, semisal kekerasan fisik yang mengakibatkan cidera, rasa sakit dan luka. Kemudian kekerasa psikis yang berakibat ketakutan, kekerasan seksual yang berupa pelecehan seksual, pemerkosaan serta kekerasan ekonomi yang berakibat terlantarnya anggota keluarga.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eMelihat kondisi itu, sepatutnyalah kaum perempuan Indonesia harus bangkit dan sadar akan peran dan posisinya. Sikap apatis perempuan harus segera dikikis, karena perasaan iba, kasihan, dan prihatin bukanlah jawaban atas kondisi mayoritas perempuan Indonesia yang saat ini masih tertindas dan termarjinalkan. Dalam momen peringatan hari Ibu pada 22 Desember ini, selayaknya menjadi refleksi kita bersama untuk merenung, berpikir, dan bertindak, hal terkecil apa yang mampu kita lakukan dalam proses transformasi nilai agar para perempuan sadar akan peran dan posisinya. Jangan sampai peringatan ini hanya sebatas seremonial tahunan belaka. Dan memang,\u003cspan style\u003d\"\"\u003e    \u003c/span\u003esesungguhnya tanggung jawab itu tidak hanya dibebankan kepada kaum perempuan saja. \u003cspan style\u003d\"\"\u003e \u003c/span\u003eTetapi, jika perempuan sendiri sudah tidak peduli, perubahan itu niscaya hanya sebatas mimpi. Selamat Hari Ibu...\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cb\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eREFERENSI:\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eBrooks, Ann. 2005. \u003ci\u003ePosfeminisme \u0026amp; Cultural Studies\u003c/i\u003e. Jogyakarta. Jalasutra\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" face\u003d\"georgia\" style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eSubandy Ibrahim, Idi. 2005. \u003ci\u003ePosfeminisme, Pergulatan Melampaui Kesadaran Feminisme?\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\" face\u003d\"georgia\" style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-size:100%;\"  lang\u003d\"IN\"\u003eDe Beauvoir, Simone. 2004. \u003ci\u003eThe Second Sex\u003c/i\u003e. Jogjakarta\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cspan style\u003d\"font-family: georgia;font-family:georgia;font-size:100%;\"   lang\u003d\"IN\"\u003eJuliastuti, Nuraini. 2005. \u003ci\u003eKebudayaan yang Maskulin, Macho, Jantan, dan Gagah\u003c/i\u003e \u003c/span\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-217286411439007626?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/217286411439007626/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d217286411439007626\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/217286411439007626"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/217286411439007626"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/12/identitas-perempuan-dalam-kultur.html","title":"Identitas Perempuan dalam Kultur Kontemporer"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-54005362325554283"},"published":{"$t":"2008-12-13T00:14:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2008-12-13T00:26:37.005+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Hari Pahlawan Bukan Sekedar Refleksi"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cmeta equiv\u003d\"Content-Type\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e\u003cmeta name\u003d\"ProgId\" content\u003d\"Word.Document\"\u003e\u003cmeta name\u003d\"Generator\" content\u003d\"Microsoft Word 12\"\u003e\u003cmeta name\u003d\"Originator\" content\u003d\"Microsoft Word 12\"\u003e\u003clink style\u003d\"font-family: georgia;\" rel\u003d\"File-List\" href\u003d\"file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml\"\u003e\u003clink style\u003d\"font-family: georgia;\" rel\u003d\"themeData\" href\u003d\"file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx\"\u003e\u003clink style\u003d\"font-family: georgia;\" rel\u003d\"colorSchemeMapping\" href\u003d\"file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml\"\u003e\u003c!--[if gte mso 9]\u003e\u003cxml\u003e  \u003cw:worddocument\u003e   \u003cw:view\u003eNormal\u003c/w:View\u003e   \u003cw:zoom\u003e0\u003c/w:Zoom\u003e   \u003cw:trackmoves/\u003e   \u003cw:trackformatting/\u003e   \u003cw:punctuationkerning/\u003e   \u003cw:validateagainstschemas/\u003e   \u003cw:saveifxmlinvalid\u003efalse\u003c/w:SaveIfXMLInvalid\u003e   \u003cw:ignoremixedcontent\u003efalse\u003c/w:IgnoreMixedContent\u003e   \u003cw:alwaysshowplaceholdertext\u003efalse\u003c/w:AlwaysShowPlaceholderText\u003e   \u003cw:donotpromoteqf/\u003e   \u003cw:lidthemeother\u003eEN-US\u003c/w:LidThemeOther\u003e   \u003cw:lidthemeasian\u003eX-NONE\u003c/w:LidThemeAsian\u003e   \u003cw:lidthemecomplexscript\u003eX-NONE\u003c/w:LidThemeComplexScript\u003e   \u003cw:compatibility\u003e    \u003cw:breakwrappedtables/\u003e    \u003cw:snaptogridincell/\u003e    \u003cw:wraptextwithpunct/\u003e    \u003cw:useasianbreakrules/\u003e    \u003cw:dontgrowautofit/\u003e    \u003cw:splitpgbreakandparamark/\u003e    \u003cw:dontvertaligncellwithsp/\u003e    \u003cw:dontbreakconstrainedforcedtables/\u003e    \u003cw:dontvertalignintxbx/\u003e    \u003cw:word11kerningpairs/\u003e    \u003cw:cachedcolbalance/\u003e   \u003c/w:Compatibility\u003e   \u003cw:browserlevel\u003eMicrosoftInternetExplorer4\u003c/w:BrowserLevel\u003e   \u003cm:mathpr\u003e    \u003cm:mathfont val\u003d\"Cambria Math\"\u003e    \u003cm:brkbin val\u003d\"before\"\u003e    \u003cm:brkbinsub val\u003d\"--\"\u003e    \u003cm:smallfrac val\u003d\"off\"\u003e    \u003cm:dispdef/\u003e    \u003cm:lmargin val\u003d\"0\"\u003e    \u003cm:rmargin val\u003d\"0\"\u003e    \u003cm:defjc val\u003d\"centerGroup\"\u003e    \u003cm:wrapindent val\u003d\"1440\"\u003e    \u003cm:intlim val\u003d\"subSup\"\u003e    \u003cm:narylim val\u003d\"undOvr\"\u003e   \u003c/m:mathPr\u003e\u003c/w:WordDocument\u003e \u003c/xml\u003e\u003c![endif]--\u003e\u003c!--[if gte mso 9]\u003e\u003cxml\u003e  \u003cw:latentstyles deflockedstate\u003d\"false\" defunhidewhenused\u003d\"true\" defsemihidden\u003d\"true\" defqformat\u003d\"false\" defpriority\u003d\"99\" latentstylecount\u003d\"267\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"0\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Normal\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 7\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 8\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"9\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"heading 9\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 7\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 8\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" name\u003d\"toc 9\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"35\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"caption\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"10\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Title\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"1\" name\u003d\"Default Paragraph Font\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"11\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Subtitle\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"22\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Strong\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"20\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Emphasis\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"59\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Table Grid\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Placeholder Text\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"1\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"No Spacing\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Revision\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"34\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"List Paragraph\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"29\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Quote\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"30\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Intense Quote\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 1\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 2\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 3\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 4\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 5\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"60\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Shading Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"61\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light List Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"62\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Light Grid Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"63\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 1 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"64\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Shading 2 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"65\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 1 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"66\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium List 2 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"67\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 1 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"68\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 2 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"69\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Medium Grid 3 Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"70\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Dark List Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"71\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Shading Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"72\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful List Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"73\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" name\u003d\"Colorful Grid Accent 6\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"19\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Subtle Emphasis\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"21\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Intense Emphasis\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"31\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Subtle Reference\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"32\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Intense Reference\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"33\" semihidden\u003d\"false\" unhidewhenused\u003d\"false\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"Book Title\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"37\" name\u003d\"Bibliography\"\u003e   \u003cw:lsdexception locked\u003d\"false\" priority\u003d\"39\" qformat\u003d\"true\" name\u003d\"TOC Heading\"\u003e  \u003c/w:LatentStyles\u003e \u003c/xml\u003e\u003c![endif]--\u003e\u003cstyle\u003e \u003c!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:\"Cambria Math\"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:\"\"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:\"Times New Roman\",\"serif\"; 	mso-fareast-font-family:\"Times New Roman\";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --\u003e \u003c/style\u003e\u003c!--[if gte mso 10]\u003e \u003cstyle\u003e  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:\"Table Normal\"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:\"\"; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:\"Calibri\",\"sans-serif\"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:\"Times New Roman\"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:\"Times New Roman\"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} \u003c/style\u003e \u003c![endif]--\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: center; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eOleh: Ahmad Ikhwan Susilo\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: center; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: center; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"center\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: right; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eBarang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: right; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003esegenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: right; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003ci\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e“kehilangan kemerdekaan diri sendiri”\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: right; font-family: georgia;font-family:georgia;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e(\u003cb\u003eDari Penjara ke Penjara, Tan Malaka\u003c/b\u003e)\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\r\u003cbr /\u003e\r\u003cbr /\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eHampir saban 10 November kita selalu mengibarkan bendera satu tiang penuh. Upacara penghormatan pun dilakukan untuk memperingati hari Pahlawan. Seremonial tahunan ini menjadi satu refleksi bagi kita semua untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan Indonesia yang dengan ikhlas mengorbankan segenap jiwa dan raga yang dimiliki sampai tetes darah penghabisan. Semua itu demi satu tujuan: Kemerdekaan! Merdeka dari penghisapan, merdeka dari penjajahan, dan merdeka dari penindasan kolonial. Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya. Maka dari itu, jangan pernah sekalipun melupakan sejarah.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eSebagaimana laiknya sebuah refleksi, peringatan hari pahlawan ini tak cukup sekedar kita memasang bendera satu tiang penuh dan mengikuti upacara kebesaran yang dipersiapkan, dihadiri para pejabat, didengarkan pidatonya, lantas selesai begitu saja tanpa ada satu nilai. Dan hal ini dari tahun ke tahun terasa semakin kurang dihayati dan menjadi kosong makna karena peringatan ini cenderung bersifat seremonial belaka.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e \u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eLebih dari itu, refleksi ini menjadi satu permenungan kita bersama, sejauh mana kita sebagai angkatan muda(baca: mahasiswa), kaum intelektual terpelajar mampu menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa ini ke depan? Hal signifikan apa saja yang telah kita perbuat di dalam arus persaingan yang \u003ci\u003ego global\u003c/i\u003e ini? karena seperti apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie bahwa kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia.\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003e\u003co:p\u003e \u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp class\u003d\"MsoNormal\"  style\u003d\"text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: georgia;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"\" lang\u003d\"IN\"\u003eMemang secara legal formal bangsa ini telah merdeka, tetapi bila kita lihat secara hakikat ternyata belum sepenuhnya kita merdeka. Penjajahan yang kita alami sekarang tidak sama dengan apa yang dialami oleh \u003ci\u003earek-arek Suroboyo\u003c/i\u003e ketika melawan Inggris di Surabaya 63 tahun silam dengan menggunakan beberapa pucuk senjata dan bambu runcing. Bentuk penjajahan yang kita alami saat ini tidak bermuka garang melainkan berwajah lembut. Kita dijajah secara sistem!...\u003ca href\u003d\"http://bungkapit21artikel.blogspot.com/\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003co:p\u003e\u003c/o:p\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e  \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-54005362325554283?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/54005362325554283/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d54005362325554283\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/54005362325554283"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/54005362325554283"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/12/hari-pahlawan-bukan-sekedar-refleksi.html","title":"Hari Pahlawan Bukan Sekedar Refleksi"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-8143766308189175886"},"published":{"$t":"2008-09-26T21:28:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-26T21:29:48.299+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Dituntut Lebih Kreatif"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify; font-family: georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eJAKARTA--MEDIA: Guru dituntut lebih kreatif dalam memberikan pelajaran bahasa dan sastra Indonesia kepada siswa agar budaya membaca dapat tumbuh sejak dini melalui pelajaran bahasa dan sastra Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKreatifitas itu dapat diwujudkan dengan menjadi fasilitator yang baik bagi siswa dengan cara menyiapkan bahan ajar praktis dan mudah dicerna oleh siswa, selain dari buku acuan pembelajaran di sekolah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHal itu diungkapkan staf pengajar program studi bahasa dan sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Widharyanto dalam seminar ‘Membangun Budaya Membaca Melalui Bahasa Indonesia’, di Gedung Pusat Pendidikan Latihan (Pusdiklat) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, Sabtu (24/11).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWidharyanto menilai, kreativitas guru dalam menyampaikan pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dinilai penting karena selama ini guru, khususnya guru bahasa dan sastra Indonesia, lebih terpaku dengan bahan pembelajaran yang telah ada di sekolah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Alasannya macam-macam, ada yang mengatakan, terkendala oleh waktu yang sempit, banyaknya tugas tambahan dari sekolah, dan juga alasan jam belajar yang banyak, sehingga sulit mendapatkan bahan pembelajaran selain dari materi pembelajaran di sekolah,\" ungkap Widharyanto.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAkibatnya, kata Widharyanto, siswa juga hanya terpaku dari bahan pembelajaran yang telah ada di sekolah, dan hal itu berdampak buruk ketika tidak ada sesuatu yang menjadi pemicu untuk menumbuhkan budaya membaca sejak dini kepada siswa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Semestinya, para guru harus menjadi fasilitator yang kreatif, dengan menyiapkan bahan pembelajaran yang praktis dari luar materi pembelajaran, seperti bahan-bahan dari media massa, baik itu media cetak maupun elektronik,\" ujar Widharyanto.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKendati demikian, lanjut Widharyanto, kreativitas itu juga perlu dibarengi oleh sikap yang selektif dan edukatif dalam memilah-milah bahan ajar dari luar materi pembelajaran di sekolah, serta disampaikan dalam metode sederhana di kelas.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Misalnya, dapat mengambil contoh dari bahan media cetak, yakni jenis-jenis tulisan deskripsi, narasi, argumentasi, eksposisi, dan persuasi, lalu juga dapat mengambil contoh jenis karya sastra dari puisi, atau juga program televisi yang menyenangkan, seperti yang berkaitan dengan flora dan fauna,\" tuturnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDengan kata lain, kata Widharyanto, tidak hanya guru yang memberikan perintah kepada siswa untuk mencari contoh di media massa. \"Namun, guru juga harus menjadi contoh, agar siswa mampu memahami apa yang dimaksud,\" ujar Widharyanto.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSementara itu, psikolog pendidikan Seto Mulyadi sependapat jika guru dituntut untuk lebih kreatif dalam penyampaian materi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, agar dengan sendirinya menumbuhkan budaya membaca bagi siswa sejak dini.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\"Jika budaya membaca sejak dini itu tumbuh, maka tidak hanya informasi yang diperoleh, tetapi juga akan memiliki keterampilan berkomunikasi, dan memiliki kepercayaan diri ketika berbicara di hadapan orang lain,\" ujar Seto. (Dik/OL-06)\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eDikutip dari Media Indonesia Sabtu, 24 November 2007 \u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-8143766308189175886?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/8143766308189175886/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d8143766308189175886\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/8143766308189175886"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/8143766308189175886"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/guru-bahasa-dan-sastra-indonesia.html","title":"Guru Bahasa dan Sastra Indonesia Dituntut Lebih Kreatif"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-5841919990789012628"},"published":{"$t":"2008-09-25T01:17:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-25T01:19:54.229+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kontroversi Pendidikan Profesi Guru"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cp align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eOleh : Waras Kamdi\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDikutip dari Kompas Rabu, 24 September 2008\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cdiv align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cem\u003eThe power to change education—for better or worse—is and always has been in the hands of teachers \u003c/em\u003e(Judith Lloyd Yero, 2003).\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBegitu strategisnya posisi guru dalam pendidikan, maka tidak salah jika pemerintah memprioritaskan peningkatan mutu pendidik melalui Pendidikan Profesi Guru sebagai kunci peningkatan mutu pendidikan nasional.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eMelalui partisipasi guru, sadar atau tidak, guru secara individual memiliki kekuatan untuk membuat usaha pembaruan pendidikan yang berhasil atau sebaliknya, merusaknya.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eMelalui situsnya, beberapa pekan terakhir, Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi memublikasikan Rancangan Permendiknas Pendidikan Profesi Guru disertai Pedoman Pendidikan Profesi Guru Pra-jabatan, dan Naskah Akademiknya.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eSebenarnya, sejak diedarkan terbatas Juni 2007, Rancangan Pendidikan Profesi Guru itu telah menuai kontroversi. Perbedaan pandangan mencuat tajam antara tim ad hoc dengan sejumlah tokoh dan pemerhati pendidikan guru dalam pertemuan yang digelar Ditjen Dikti di Hotel Jayakarta Jakarta, 30 Maret 2008. Namun, hingga draf rancangan yang dipublikasikan itu, nyaris tak ada perubahan berarti.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eInti masalah terletak pada kecermatan akademik dalam Rancangan Pendidikan Profesi Guru yang secara konseptual tidak memadai, bahkan dikesankan banyak pihak, telaah akademiknya dikerjakan serampangan dengan pendekatan berpikir kira-kira.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePedoman pendidikan dan Rancangan Permendiknas-nya pun mengidap cacat bawaan dari naskah akademik. Jika rancangan ini terus menggelinding menjadi ketetapan Permendiknas, dikhawatirkan akan melengkapi pengalaman pahit Presiden Yudhoyono setelah ”Super Toys” dan ”Banyu Geni”.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eSelain itu, grand design Pendidikan Profesional Guru dalam rangka Sertifikasi Guru menjadi makin tidak jelas juntrungnya.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKekacauan konsep\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eAda frase yang dikacaukan satu sama lain kemudian mengundang kontroversi, yaitu ”Pendidikan Profesional Guru”, ”Pendidikan Guru Konsekutif”, ”Pendidikan Guru Terintegrasi (Concurrent)”, ”Pendidikan Akademik Guru”, dan ”Pendidikan Profesi Guru”.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDalam praktik pendidikan guru di Tanah Air dikenal Pendidikan Guru Konsekutif (untuk PGSM) dan Pendidikan Guru Terintegrasi (khusus untuk PGSD). Pendidikan Guru Konsekutif dimulai dengan penguasaan disiplin ilmu tertentu sesuai mata pelajaran di sekolah menengah, lalu ditambah (plug-in) penguasaan kemampuan ilmu kependidikan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eJenis pelaksanaannya, Pendidikan Guru Konsekutif dilakukan dalam jalur kependidikan maupun jalur nonkependidikan yang kemudian menambah paket kependidikan. Sedangkan Pendidikan Guru Terintegrasi sejak awal pendidikan, penguasaan disiplin ilmu yang diajarkan di SD dan penguasaan pedagogisnya dilakukan secara terintegrasi. Pada program S-1, keduanya berujung diperolehnya ijazah (akademik) sarjana pendidikan (SPd) sehingga disebut ”Pendidikan Akademik Guru”.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKeberadaan Pendidikan Profesi Guru menjadi tuntutan setelah UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mensyaratkan guru profesional harus memiliki sertifikat pendidik. Lazimnya seperti dilakukan pada bidang kedokteran, akuntan, atau lawyer, Pendidikan Profesi Guru dilakukan secara internship setelah melalui pendidikan akademik. Pendidikan profesi berisi kegiatan praktik ”mencemplungkan diri” menerapkan kemampuan akademik dalam kegiatan profesi guru di sekolah disertai mekanisme penyeliaan yang sistematis dan dalam waktu memadai.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eMaka, Pendidikan Profesi Guru harus mensyaratkan peserta penyandang SPd, baik yang berasal dari jalur Pendidikan Konsekutif maupun Pendidikan Guru Terintegrasi.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePendidikan akademik dilakukan dalam basis kampus, berujung diperolehnya ijazah sarjana. Sedangkan pendidikan profesi dilakukan secara internship di sekolah, berujung didapatnya sertifikat. Semua proses pendidikan guru, mulai dari pendidikan akademik hingga diteruskan ke pendidikan profesi guru disebut ”Pendidikan Profesional Guru”.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKekacauan konsep dalam Rancangan Permendiknas bermula dari Naskah Akademik dan Pedoman Pendidikan Profesi Guru versi Ditjen Dikti karena tidak mampu membedakan ”Pendidikan Guru Konsekutif” yang akademik dengan ”Pendidikan Profesi Guru” yang internship.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePasal 10 Struktur Kurikulum yang terdiri mata kuliah akademik dan pendidikan bidang studi ditambah Praktik Pengalaman Lapangan, dan Pasal 11 tentang Beban Belajar dengan rentang 18-40 \u003esmall 2\u003csks\u003esmall 0\u003c, jelas menunjukkan, yang dimaksud ”Pendidikan Profesi Guru” dalam Rancangan Permendiknas ini tidak lain adalah ”Pendidikan Guru Konsekutif” yang bercirikan pendidikan akademik, nyaris tak beda atau reinkarnasi program Akta bagi S-1 nonkependidikan yang dikenal selama ini.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eIni berarti bagi peserta S-1 dan D-IV (jika ada) kependidikan akan mengulang ”cerita” pendidikan akademiknya dan bagi peserta S-1 dan D-IV nonkependidikan selayaknya menempuh ”Pendidikan Guru Konsekutif” guna mendapatkan ”Pendidikan Akademik Guru”. Singkat kata, ”Pendidikan Profesi Guru” yang bercirikan kegiatan internship yang dimaksud sebenarnya belum berhasil dirumuskan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eReformasi LPTK\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePasal 3 Rancangan Permendiknas menyebutkan, program Pendidikan Profesi Guru diselenggarakan LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan pemerintah. Pengalaman praktis LPTK sebatas menyelenggarakan pendidikan guru konsekutif dan konkuren melalui aneka jenis paket kependidikan, dan menghasilkan sarjana pendidikan (akademis) yang ditandai perolehan ijazah dan gelar SPd.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePendidikan Profesi Guru melalui internship di sekolah minimal satu tahun itu pasti bukan format praktik pengalaman lapangan (PPL) yang selama ini dikenal di LPTK, yang masih dalam ranah pendidikan akademik guru. Dengan kerangka pikir baru, Pendidikan Profesional Guru dilakukan berjenjang dari pendidikan sarjana akademik di LPTK lalu pendidikan profesi setelah sarjana, maka reformasi kurikulum LPTK secara menyeluruh dan pengembangan Pendidikan Profesi Guru menjadi keniscayaan dalam pengembangan Pendidikan Profesional Guru.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eSejalan dengan itu, LPTK perlu mengembangkan program operasional internship Pendidikan Profesi Guru yang belum pernah ada, dengan penyeliaan yang sistematis berbasis sekolah laboratorium atau sekolah mitra.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eMemerhatikan dampak yang luas dalam sistem pendidikan di Tanah Air, formulasi pendidikan profesional guru tak boleh dilakukan grusa-grusu, ”kejar tayang”, hanya untuk memenuhi target proyek. Dalam hal ini, kita perlu lebih arif karena kini saatnya menata Pendidikan Profesional Guru secara cermat dan sungguh-sungguh untuk menuai generasi guru baru yang ”perkasa” mengubah mutu pendidikan, mengubah menjadi lebih baik, dan bukan merusaknya.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eWaras Kamdi Ketua Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran Universitas Negeri Malang; Anggota Kelompok Peduli Pendidikan Guru\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-5841919990789012628?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/5841919990789012628/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d5841919990789012628\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/5841919990789012628"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/5841919990789012628"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/kontroversi-pendidikan-profesi-guru.html","title":"Kontroversi Pendidikan Profesi Guru"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-2152541668299787849"},"published":{"$t":"2008-09-25T01:15:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-25T01:17:10.511+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Konsep Dulu, Baru Uang"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cp align\u003d\"center\"\u003eOleh : Daoed JOESOEF\u003c/p\u003e\u003cp align\u003d\"center\"\u003eDikutip dari Kompas Rabu, 3 September 2008\u003c/p\u003e\u003cp align\u003d\"justify\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSalah satu ucapan Presiden yang disambut hangat di dalam dan di luar DPR adalah keputusan mewujudkan anggaran 20 persen APBN untuk pendidikan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSambutan ini berdasarkan asumsi, kekurangan dana menjadi faktor utama impotensi pendidikan nasional selama ini.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBenarkah? Sepertinya tidak. Asumsi itu keliru. Kalaupun tambahan anggaran itu diwujudkan secara efisien, efektif, dan mencapai sasaran, hal itu justru mengukuhkan penyakit yang membuat pendidikan tak berdaya melaksanakan misinya. Sistem pendidikan kita mandek, bahkan amburadul, bukan (hanya) karena kekurangan dana, tetapi lebih dari itu, terkait ketiadaan konsep idiil yang mendasari.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTidak ada sistem apa pun yang tepat sebagaimana adanya (in itself). Ia tepat, maka itu dinilai baik, ditinjau dari konteks tujuan perumusannya, untuk apa ia diadakan. Dengan predikat ”nasional”, fungsi pendidikan jelas berdimensi nasional (kepentingan negara-bangsa) selain individual (hak warga negara perseorangan). Berarti, kejelasan citra dari komunitas nasional yang diidam-idamkan harus ada lebih dulu. Dan, citra ini merupakan keputusan nasional yang disepakati oleh semua negarawan, politikus, dan cendekiawan bangsa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eNamun, justru citra ideal itu yang tidak ada, belum pernah ada. Padahal, bahan-bahan untuk perumusan tersebar dalam ucapan, tulisan para pendiri negara-bangsa—adakalanya begitu eksplisit, dan kandungan-kandungan pasal/ayat UUD.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJadi, jangan disalahkan jika para profesional di Depdiknas bekerja seadanya, pragmatis/reaktif, mengesankan amburadul, ganti menteri ganti kurikulum. Keamburadulan kian parah karena tidak ada konsep nasional yang integralistik, disuntikkan aneka otonomi ke dalam proses pendidikan, mulai otonomi daerah yang berlapis—provinsi, kabupaten, kota—hingga otonomi sekolah yang atomistis.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKini departemen diberi dana kerja amat besar, padahal tidak ada program aksi relevan yang disiapkan sebelumnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMengingat negara-bangsa tidak ”memberi” kriteria tentang apa yang harus dilakukan oleh pendidikan nasional, sebagai lembaga formal tertinggi dalam memasok suatu kualitas pendidikan, wajar Depdiknas menyiapkan konsep pendidikan demi pendidikan itu sendiri. La noblesse oblige! Jangan membiarkan pemerintah terus memperlakukan pendidikan hanya sebagai urusan marjinal dalam seluruh urusan politik yang ditangani.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTiga keharusan\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePaling sedikit ada tiga keharusan yang membenarkan departemen bertindak demikian, yaitu yang bersifat konstitusional, moral, sosial dan ekonomis.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam Pembukaan UUD 1945 tertera, dengan menyatakan kemerdekaannya, rakyat Indonesia bertekad, antara lain, ”mencerdaskan kehidupan bangsa”. Para pendiri Republik menyadari betapa kehidupan bangsa perlu dicerdaskan mengingat unsur-unsur konstitutifnya tidak homogen. Maka, kecerdasan merupakan satu keharusan demi pemahaman genuine sebagai dasar kesatuan dan persatuan di tengah kemajemukan alami. Persatuan dalam arti menerima adanya aneka perbedaan dengan ikhlas, penuh toleransi (integrasi). Kesatuan dalam arti menyatukan dan menegakkan kesamaan (unifikasi).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMencerdaskan kehidupan bangsa dilakukan melalui pendidikan sebab kecerdasan tidak genetically fixed, tetapi dapat diajarkan. Berhubung anak didik adalah warga bangsa, melalui kecerdasannya karakter bangsa dibantu membaik menjadi terpuji. Jadi, mendidik anak bangsa tidak hanya merupakan keharusan konstitusional, tetapi juga moral.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePendidikan untuk semua anak perlu dipertegas dengan keharusan sosial, yaitu memberi pendidikan yang sama kepada anak perempuan dan laki-laki. Kesamaan ini merupakan keharusan mengingat jenis kolektivitas yang dikehendaki adalah kehidupan berbangsa di mana ada keadilan jender dan political independence bagi perempuan, yang berarti punya hak suara, hak memilih dan dipilih untuk memegang jabatan politis dan jabatan teknis apa saja yang dia mampui secara fisik dan mental.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKetiga keharusan itu perlu digenapi keharusan ekonomis, yaitu pendidikan untuk semua harus diartikan sebagai pendidikan yang menjangkau anak miskin dan cacat, tidak terbatas anak kaya dan sempurna. Kehidupan bangsa baru dapat dikatakan cerdas bila tiap warganya yang berlatar belakang apa pun dapat naik dari tempat kelahiran terendah ke tingkat pencapaian tertinggi berkat pendidikan. Lagi pula bangsa yang berhasil pada masa depan adalah yang tidak hanya membukakan pintu bagi sebagian talenta dari sebagian anak-anaknya, tetapi mengembangkan semua talenta dari semua anaknya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam menyusun konsep pendidikan, Depdiknas seharusnya berprinsip bahwa misinya berurusan dengan nilai, tidak hanya transmisi pengetahuan dan keterampilan antargenerasi, tetapi membudayakan manusia karena sistem nilai yang dihayati adalah budaya. Pembudayaan nilai-nilai asing oleh sistem pendidikan biasa terjadi di banyak bangsa. Melalui penghayatannya, dengan sadar melakukan aneka perubahan guna mewujudkan jenis masyarakat nasional yang mereka idealkan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eOleh karena itu, secara esensial pendidikan adalah proses yang membiasakan manusia sedini mungkin mempelajari, memahami, menguasai, dan menerapkan nilai-nilai yang disepakati bersama sebagai berguna bagi individu, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya. Bagi kita, juga ada nilai-nilai asing yang harus bisa dihayati sebagai budaya alami melalui pendidikan demi kemajuan individual dan kolektif. Salah satu yang amat penting dan menentukan adalah ”semangat ilmiah”, yaitu ilmu pengetahuan dalam arti proses, yang mengembangkan ”pengetahuan” menjadi ”pengetahuan ilmiah” dan tentu saja disiplin yang sudah jadi (ilmu pengetahuan dalam arti produk).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSemangat ilmiah diperlukan untuk semakin menyempurnakan pembawaan human kita. Ia membantu menciptakan pengetahuan ekstra genetik agar terbebas dari ketergantungan pada pengetahuan genetik semata. Ia juga berguna dalam pembentukan pengetahuan ekstra somatik, yaitu informasi yang disimpan di luar tubuh, di tempat khusus—perpustakaan, laboratorium, museum, dan lain-lain.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eIntegritas departemen\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSemangat ilmiah dan ilmu pengetahuan yang dihasilkan juga dapat menyempurnakan hidup kemakhlukan kita. Kita hidup di antara dua infinitas alami yang keberadaannya amat menentukan kondisi kehidupan makhluk di bumi, baik dalam arti positif maupun negatif. Di satu pihak ada yang besar tak terhingga, yaitu galaksi di angkasa luar, nebula bercahaya warna-warni dari Bimasakti, planet-planet dari sistem solar. Di lain pihak, ada yang kecil tak terhingga, seperti sel hidup, jaringan neuron, DNA, subatomic particles. Akses ke potensi natural yang dikandung kedua infinitas itu terbukti dimungkinkan oleh ilmu pengetahuan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJadi, sistem pendidikan yang kita kembangkan demi mencerdaskan bangsa adalah bagian dari kebudayaan. Maka, sungguh aneh jika urusan kebudayaan tidak dikembalikan ke jajaran departemen yang mengurus pendidikan. Lebih aneh lagi jika Depdiknas membiarkannya tetap begitu. Mana integritas intelektual departemen ini? Cakupan kebudayaan jauh lebih luas dari sekadar kesenian selaku pemancing dollar turis asing! Nilai-nilai perlu diolah oleh kecerdasan melalui penemuan dan kombinasi baru demi pembentukan peradaban baru yang sejalan tuntutan abad XXI dan selanjutnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBila konsep pendidikan nasional yang menyeluruh dan terpadu telah selesai, berikan kepada politik agar diterima. Politik harus memutuskan konsep yang ia sendiri tidak mampu merumuskannya. Dengan cara begini alih-alih politik mengorupsi pendidikan, the intellectual integrity of education needs to contribute to the decorruption of politics. Bagaimanapun ada politik dalam pendidikan, sebagaimana ada pendidikan dalam politik.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDaoed JOESOEF Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-2152541668299787849?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/2152541668299787849/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d2152541668299787849\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/2152541668299787849"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/2152541668299787849"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/konsep-dulu-baru-uang.html","title":"Konsep Dulu, Baru Uang"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-6739231064864081719"},"published":{"$t":"2008-09-25T01:13:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-25T01:14:47.376+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Anggaran Peningkatan Mutu Pendidikan"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eOleh : Baskoro Poedjinoegroho\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDikutip dari Kompas Rabu, 3 September 2008\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDalam pidato di depan anggota DPR, Presiden menetapkan anggaran pendidikan nasional sebesar 20 persen dari total APBN 2009.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBila dirupiahkan, total anggaran untuk pendidikan pada APBN 2009 sebesar Rp 244,44 triliun, kenaikan yang amat mencolok dibanding anggaran 2008 sebesar Rp 154, 2 triliun. Insan pendidikan agaknya puas, karena putusan itu sejalan dengan amanat UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Perbaikan mutu pendidikan menjadi prioritas. Masalahnya, mungkinkah dengan dana sebesar itu kemajuan pendidikan bisa terwujud?\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eMemperbaiki mutu\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKebijakan penaikan anggaran pendidikan, tentu bukan tanpa alasan. Banyak alasan dapat dikemukakan, antara lain keinginan dan tuntutan dalam berbagai bentuk dari insan pendidikan entah penyelenggara, pelaku, ataupun pemerhati. Pantas disyukuri bahwa pemerintah menyambut keinginan insan pendidikan. Rasa syukur layak dikemukakan jika terjadi perjumpaan antara keinginan yang baik untuk memajukan pendidikan dan kemauan baik untuk mendukungnya. Maksudnya, keinginan dan kemauan baik yang tidak melulu demi besarnya jumlah dana atau uang, atau muatan politis lainnya. Bukankah uang senantiasa menggiurkan, apa.lagi sebesar anggaran pendidikan nasional 2009?\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eMemang, orang boleh berpendapat, anggaran itu masih lebih kecil dibanding anggaran negara tetangga, misalnya dengan basis produk domestik bruto (PDB) angka Indonesia adalah 1,9 persen, sementara Thailand 5,0 persen, Malaysia 5,2 persen, dan Vietnam 2,8 persen.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBagaimanapun Rp 244,44 triliun adalah jumlah amat besar. Jumlah itu akan kian bermakna karena merupakan kebijakan politik atau jawaban tepat dan kini dibutuhkan. Apalagi, bangsa ini sedang mengalami kemunduran di segala bidang, terutama karena kemerosotan moral, yang harus diyakini akan dapat diimbangi dengan pendidikan bermutu.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDalam pidato Presiden (15/8/2008) itu, anggaran 20 persen ditujukan untuk perbaikan sarana-prasarana (gedung sekolah) dan SDM (guru, dosen, beasiswa). Dengan demikian, diharapkan akan terjadi kemajuan mutu pendidikan. Dari sisi lain, ada yang menantang pelaku atau pengguna anggaran, yakni pembuktian sekaligus perwujudan pengembangan diri bahwa mereka adalah insan-insan yang melakukan kemajuan pendidikan melalui pemanfaatan dana sesuai maksud/tujuan pengadaan (intentio dantis). Meski juga harus disadari, tidak selalu mudah menanggapi atau melaksanakan apa yang sudah diketahui; acap kali apa yang diketahui tidak selalu dilaksanakan terlebih bila menyangkut soal dana atau uang.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKeadaan ini mengingatkan akan apa yang baru saja digumuli para pendidik, yaitu sertifikasi pendidik. Entah sudah mengerti ihwal makna sertifikasi atau belum, yang pasti, mereka yang lolos sertifikasi akan mendapat tambahan pendapatan. Inilah yang hidup di benak pengajar sertifikasi. Sertifikasi diperjuangkan mati-matian jika perlu dengan bertindak curang, tidak peduli bertentangan dengan prinsip pendidikan. Misalnya, memalsukan dokumen/portofolio demi lengkapnya persyaratan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDi antara pengejar sertifikasi belum pernah terdengar, sertifikasi diburu sebagai bukti bahwa seorang pendidik telah dan selalu mengejar kompetensi atau profesionalitas dalam mendidik. Yang lazim adalah sertifikasi diperjuangkan demi bertambahnya pendapatan atau uang. Bila demikian, mutu pendidikan akan biasa-biasa saja meski pendapatannya bertambah.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBukan milik pribadi\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBanyak orang amat rentan dengan uang, tak bijaksana dalam mengelola uang. Apa saja yang terkait uang senantiasa membuat mabuk, kehilangan kesadaran diri, kehilangan akal sehat, kehilangan ketajaman nurani. Banyak bukti mudah ditemukan saat ini. Setiap hari media tak pernah absen memberitakan kejahatan yang terkait uang.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKarena itu, penetapan anggaran pendidikan 20 persen harus dijadikan momentum bagi para insan pendidikan untuk membuktikan diri, mereka adalah pribadi-pribadi yang berharkat luhur yang amat bernilai lebih daripada nilai nominal uang. Caranya, dengan memperlakukan anggaran atau dana pendidikan sebagai bukan milik pribadi. Inilah sikap dasar yang harus dimiliki oleh siapa pun sebelum melibatkan diri dalam penggunaan anggaran atas nama perbaikan mutu. Bila tidak, perbaikan mutu pendidikan tak akan terjadi, bahkan akan semakin merosot.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBaskoro Poedjinoegroho Direktur SMA Kanisius Jakarta\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-6739231064864081719?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/6739231064864081719/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d6739231064864081719\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6739231064864081719"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6739231064864081719"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/anggaran-peningkatan-mutu-pendidikan.html","title":"Anggaran Peningkatan Mutu Pendidikan"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-2132982002476899449"},"published":{"$t":"2008-09-25T01:10:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-25T01:12:25.109+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"\"Nasionalnya\" Pendidikan Kita"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eOleh : Agus Suwignyo\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eDikutip dari  Kompas Rabu, 24 September 2008\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTulisan mantan Mendikbud Daoed Joesoef tentang pentingnya perumusan kembali ”konsep idiil yang mendasari” sistem pendidikan kita (Kompas, 3/9/2008), disambut takzim fisikawan-etikawan Liek Wilardjo dengan menyebutnya ”wejangan Resi Seta yang turun dari pertapaan Pareanom” (Kompas, 11/9/2008).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePak Daoed menegaskan, ”Dengan predikat nasional, fungsi pendidikan jelas berdimensi nasional (kepentingan negara-bangsa) selain individual (hak warga negara perseorangan).” Pak Liek menyahut, ”Sudah saatnya kita mempunyai konsep pendidikan nasional yang jelas”.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e”Percakapan” dua begawan itu layak dikembangkan karena menyegarkan pemikiran ke arah pembaruan konstruksi nasional pendidikan Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSetidaknya selama sepuluh tahun terakhir, kita terjebak hiruk-pikuk—meminjam istilah pedagog senior Mochtar Buchori—aneka persoalan ”hilir” dan mengabaikan aneka pemikiran dasar yang memberi arah kebijakan dan praktik pendidikan nasional.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAmbil contoh, perkara ujian nasional, buku pelajaran, dan sertifikasi guru dikaji dalam bingkai kritik ketidaksigapan pemerintah merespons permasalahan terkini. Namun, kajian sering terisolasi dari konteks makro arah pendidikan. Sejauh mana silang pendapat tentang perkara itu mencerminkan relevansi dan makna ”kenasionalan” sistem pendidikan kita masih relatif kabur.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAkibatnya, upaya menyelesaikan persoalan-lapangan praktik pendidikan tidak menyentuh akar masalah. Perkara UN, misalnya, justru kian rumit (dan ruwet) akibat terlepasnya substansi kontroversi dari tolok ukur ”kenasionalan” sistem pendidikan. Di sisi lain, proses pendidikan (kian) dikeluhkan menciptakan beban sosial—alih-alih kekuatan transformatif masyarakat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTrisila imperatif\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHal amat krusial yang seharusnya dijiwai—tetapi nyata-nyata telah diabaikan—dalam perumusan kebijakan dan praktik pendidikan kita adalah prinsip-prinsip yang mendasari dan memberi karakter ”nasional”-nya sistem pendidikan. Secara historis, prinsip-prinsip itu mencakup pemerataan, integrasi, dan kemandirian.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSejak SD kita tahu, gagasan pemerataan sebagai prinsip pendidikan Indonesia merupakan reaksi langsung terhadap sistem pendidikan kolonial yang segregatif dan diskriminatif.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTokoh-tokoh, seperti Dwidjo Sewojo, RA Kartini, KH Dewantara, KH Ahmad Dahlan, Moh Sjafei, Moh Yamin, dan Moh Hatta, berjuang demi sistem pendidikan nasional yang merengkuh warga negara tanpa pembedaan kelas. Proklamasi Kemerdekaan melahirkan kesamaan hak warga atas pendidikan melalui jaminan konstitusi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMeskipun demikian, dalam konteks kemerdekaan, pemerataan pendidikan bukan semata-mata perkara hak warga yang pemenuhannya menjadi kewajiban negara.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKhusus untuk konteks Indonesia, pemerataan bersifat imperatif demi terbentuknya sikap individu-individu sebagai kesatuan warga dalam wadah negara.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDengan makna itu, pemerataan pendidikan merupakan medium terwujudnya integrasi keindonesiaan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eArtinya, ketika prinsip pemerataan pendidikan diabaikan, yang terjadi bukan hanya pelanggaran hak warga, tetapi juga ancaman terhadap integrasi kebangsaan kita.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKarena itu, evaluasi atas berbagai kebijakan strategis, seperti UN, tidak cukup ditempatkan dalam bingkai isu-isu implementasi kebijakan, misalnya menyangkut keadilan sosial dan tanggung jawab pemerintah. Evaluasi harus menyentuh peran dan kepentingan negara dalam berbagai kebijakan strategis pendidikan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKemandirian\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSelain pemerataan dan integrasi, fondasi filsafati penting dari ”nasionalnya” sistem pendidikan kita adalah kemandirian. Penekanan pada kemandirian amat jelas dalam pemikiran tokoh-tokoh pendidikan yang telah disebut.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDemi prinsip kemandirian, misalnya, KH Dewantara menolak bantuan keuangan pemerintah bagi Perguruan Taman Siswa. Begitu pun KH Ahmad Dahlan dan Moh Sjafei bersikap selektif terhadap tawaran bantuan kolonial.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam konteks berbeda pada periode kontemporer, YB Mangunwijaya pernah mengharuskan anak-anak jalanan membayar (meski hanya Rp 25) jika meminjam buku perpustakaan Kali Code karena konsep gratisan dianggapnya menghambat kemandirian dan sense of belonging anak-anak itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eContoh-contoh itu menegaskan, kemandirian merupakan elemen krusial harga diri (dignity). Implikasi politisnya, selain mengemban misi memerdekakan cara berpikir dan jiwa anak-anak bangsa (misi mikro), penyelenggaraan pendidikan sebagai tanggung jawab pemerintah juga harus memancing seluas mungkin partisipasi masyarakat (misi makro).\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSecara khusus dalam konteks anggaran, skema alokasi dana pendidikan pada APBN 2009 harus jitu dan akomodatif agar merangsang investasi lebih besar pemerintah daerah dan pihak-pihak swasta dalam penyelenggaraan pendidikan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHanya dengan kesadaran bahwa pendidikan sebagai hak warga bukanlah sesuatu yang terberi dan taken for granted, tetapi harus diusahakan bersama, kita terbebas dari kekangan paradigma filantropi yang diusung para penggagas Politik Etis 100 tahun lalu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAgus Suwignyo Pedagog FIB UGM; Sedang Meneliti Sejarah Pendidikan Guru\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-2132982002476899449?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/2132982002476899449/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d2132982002476899449\u0026isPopup\u003dtrue","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/2132982002476899449"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/2132982002476899449"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/nasionalnya-pendidikan-kita.html","title":"\"Nasionalnya\" Pendidikan Kita"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-259419060651888557"},"published":{"$t":"2008-09-25T01:07:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-25T01:09:30.765+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Lonceng Kematian Sekolah Swasta"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cp align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eOleh : S BELEN\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003edikutip dari Kompas Rabu, 24 September 2008\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cdiv align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eTahun 2009, anggaran pendidikan mendapat tambahan Rp 46,15 triliun hingga menjadi Rp 224 triliun (20 persen APBN). Penghasilan guru dan dosen PNS terendah minimal Rp 2 juta, belum termasuk kenaikan kesejahteraan sekitar 14-15 persen gaji pokok.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKabar menggembirakan bagi guru dan dosen PNS itu ternyata tak dinikmati guru sekolah swasta. Bagi mereka, ketentuan itu hanya menjadi pelipur lara. Guru nonsarjana hanya mendapat subsidi tunjangan Rp 50.000 dan guru S-1 Rp 100.000 per bulan (Kompas, 10-12/9/2008).\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eTambahan ini akan digunakan untuk menaikkan dana bantuan operasional sekolah (BOS), menambah guru madrasah, rehabilitasi sekolah, peningkatan sarana sekolah, peningkatan kualitas pendidikan nonformal, dan penelitian pendidikan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eLonceng kematian\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePada era reformasi, gaji PNS—termasuk guru PNS—berkali-kali dinaikkan pemerintah. Hal ini memaksa yayasan swasta menyetarakan gaji guru dengan guru PNS. Akibatnya, alokasi dana untuk gaji guru di sekolah swasta favorit di perkotaan yang dulu sekitar 60 persen dari total anggaran kini 70 persen hingga 85 persen. Jika ditambah insentif pemerintah daerah, terutama di Jakarta dan Kalimantan Timur, jurang penghasilan guru PNS dan swasta kian lebar.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBantuan dana BOS bagi swasta tak memecahkan masalah karena terbanyak untuk gaji guru. Nasib guru sekolah swasta menyedihkan. Sebuah SMA swasta di Jakarta hanya mampu menggaji Rp 1 juta bagi guru yang sudah mengabdi 12 tahun. Di Yogyakarta ada guru yang masih digaji Rp 300.000. Banyak sekolah seperti ini. Kesejahteraan guru PNS akan kian cerah pada masa depan. Dapat diramalkan, sekolah swasta akan gulung tikar. Ini merupakan lonceng kematian sekolah swasta.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDampak\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBanyak sekolah swasta—Taman Siswa, Muhammadiyah, sekolah NU, sekolah swasta Islam lain, sekolah Katolik maupun sekolah Kristen—akan terkubur. Ada yang bertahan hidup, tetapi ibarat kerakap di atas batu. Mereka akan sulit mempertahankan mutu karena dana untuk proses belajar-mengajar (PBM) dan pelatihan guru drastis berkurang.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePadahal, sekolah-sekolah ini amat berjasa dalam perjuangan kemerdekaan dan pencerdasan bangsa. Di seluruh Indonesia sekolah swasta umumnya lebih bermutu daripada sekolah negeri. Data nilai evaluasi murni UN menunjukkan kenyataan ini. Jika sekolah swasta hilang dari peredaran, bangsa ini akan ”kehilangan” besar.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eYayasan sekolah swasta yang besar berkiprah tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan, bahkan di wilayah terpencil. Untuk bertahan hidup, digunakan subsidi silang. Kebijakan diskriminatif pemerintah akan berakibat tewasnya sekolah di kota. Selanjutnya sekolah di pedesaan akan ditutup. Mengapa pemerintah memilih menaikkan gaji guru PNS saja? Jika sekolah swasta di pedesaan ditutup, angka partisipasi anak usia wajib belajar pasti menurun. Karena itu, DPR hendaknya mempertimbangkan dampak ini dalam membahas alokasi dana tambahan ini.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eNegara lain\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003ePerkembangan di dunia menunjukkan gejala yang mirip. Pemerintah Inggris membangun sekolah negeri, tetapi juga tetap mempertahankan sekolah swasta yang berciri khas. Dana pendidikan termasuk gaji guru tidak dibedakan. Gejala ini juga terjadi di Malaysia dan Barat. Sekolah swasta umumnya tetap mempertahankan ciri khas meski hampir seluruh pembiayaan ditanggung pemerintah.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDi Malaysia hampir 50 tahun pemerintah berusaha menghapus sekolah swasta China, Tamil, dan Islam, tetapi sekolah-sekolah itu tetap bertahan hidup. PM Mahathir Mohamad bahkan secara khusus berusaha menghapus sekolah swasta Islam yang disebut sekolah agama rakyat (SAR), tetapi tak berhasil. Untuk sekolah swasta China, Tamil, dan Islam yang independen, pemerintah memberi subsidi sarana dan gaji guru.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eDulu Presiden Soeharto pernah berkata kepada Gubernur NTT Ben Mboy. ”Sekolah negeri dan swasta memang masih dibedakan. Namun, pada masa depan jika pemerintah sudah mampu, tidak akan dibedakan. Dana untuk pembangunan gedung, sarana, dan gaji guru sekolah swasta ditanggung pemerintah.”\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eSaat itu, perbedaan sekolah negeri dan swasta hanya pada papan nama sekolah. Kini tiba saatnya pemerintah mengakhiri tindak diskriminatif terhadap sekolah swasta saat 20 persen APBN dialokasikan untuk pendidikan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eArgumen\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eArgumen yang mendasari usul ini adalah, pertama, uang negara, yakni uang rakyat yang juga berasal dari pajak rakyat. Karena itu, perlakuan pemerintah harus sama. Sekolah swasta juga mendidik anak bangsa.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKedua, sekolah negeri menunjukkan ciri pengelolaan seperti lembaga pemerintah. Kurang efisien, tak bersemangat wirausaha, dan kurang motivasi meningkatkan mutu. Adapun sekolah swasta memiliki elan vital mewujudkan visi dan misi khas serta bergantung kepercayaan masyarakat. Lebih inovatif karena didorong nilai tambah yang ditawarkan untuk meningkatkan nilai jual. Penerapan asas subsidi silang menjamin kelangsungan hidup sekolah di pedesaan. Sekolah dikelola seperti bisnis. Prinsip efisiensi konsisten dilaksanakan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eKetiga, di suatu negara selalu ada kelompok masyarakat yang berjuang mewariskan nilai-nilai khas budaya, etnis, agama, dan ideologi. Upaya pemerintah menghapus sekolah swasta cenderung tak berhasil. Hal ini juga terlihat di AS. Sekolah swasta Kristen tetap hidup sejak akhir abad ke-19 hingga kini meski pemerintah selalu berusaha menghapus. Mutunya lebih baik dan penggunaan dana tetap efisien. Gejala ini juga terlihat di Indonesia. Di berbagai daerah, mutu sekolah swasta cenderung lebih unggul. Sekolah negeri yang bermutu umumnya hanya satu-dua di kota besar. Tibalah saatnya pemerintah menggunakan bisikan nurani dalam mengambil kebijakan pendidikan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eS BELEN Pemerhati Pendidikan\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-259419060651888557?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/259419060651888557/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d259419060651888557\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/259419060651888557"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/259419060651888557"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/lonceng-kematian-sekolah-swasta.html","title":"Lonceng Kematian Sekolah Swasta"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-1577256815182850424"},"published":{"$t":"2008-09-13T23:32:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-09-13T23:35:36.196+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Sst! Pemerintah Sedang Godok Aturan Baru Soal Berdemonstrasi!"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify; font-family: georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eWahai para demonstran, ada berita buruk buat Anda. Dalam beberapa bulan ke depan, jika rencana pemerintah mulus, aksi unjuk rasa bakal lebih sulit untuk dilakukan. Apa pasal?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSumber berpolitik menyebutkan, saat ini Kepolisian atas perintah Presiden SBY, dikabarkan tengah menggodok tentang aturan berdemonstrasi. Soalnya, aturan saat ini sudah dianggap tak memadai.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eYang terpokok, dalam aturan baru nanti, para pengunjuk rasa tidak lagi cukup sekadar memberitahu kepada aparat kepolisian tentang rencana unjuk rasa. Untuk menggelar demonstrasi, mereka harus mendapat ijin tertulis. Kalau ijin tak keluar, tentu saja aksi tak bisa dilakukan. Jadi, sangat mungkin kalaupun bisa digelar, sudah \"basi\".\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDan, tentu saja, untuk mendapat ijin itu soalnya tak gampang. Nantinya, untuk mendapat ijin, pelaku unjuk rasa harus mengisi formulir yang meminta informasi banyak hal, yang rasanya bisa langsung membuat kepala Anda \"cenut-cenut\" .\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHarus Membeberkan Pelaku dan Penyandang Dana\u003cbr /\u003eBayangkan, dalam formulir yang Anda harus isi, berbagai hal yang terkait pelaksanaan unjuk rasa harus Anda laporkan. Itu menyangkut soal struktur organisasi pengunjuk rasa: siapa yang jadi Komandan lapangannya, siapa yang jadi juru runding, siapa yang bertugas melakukan pengamanan, siapa yang bertindak sebagai \"tim advance\", siapa yang menyusun materi tuntutan, siapa yang memainkan peran sebagai dinamisator lapangan, dan seterusnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDan, tak hanya itu. Anda juga harus melaporkan dimana saja dan kapan saja rapat-rapat persiapan unjuk rasa tersebut dilakukan. Tentunya, Anda harus pula melampirkan nama-nama yang ikut dalam rapat-rapat tersebut. Bahkan, direncanakan juga meliputi tapi terbatas menyangkut nomor telpon genggam, asal organisasi dan juga foto copy KTP yang bersangkutan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDan, akhirnya, Anda harus melaporkan berapa dana yang disiapkan untuk menyelenggarakan unjuk rasa. Yang terpenting: siapa saja yang menyediakan dana untuk menggelar aksi tersebut!\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBelum Aksi, Sudah Jadi Tersangka\u003cbr /\u003eDengan sederet \"kelengkapan administrasi\" seperti itu, para pelaku unjuk rasa bisa langsung ciut nyalinya. Bagaimana tidak. Sederet informasi yang harus diisi itu bakal menjadi bahan untuk menjerat mereka.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSedikit kekeliruan saja memberikan informasi, bisa dipastikan Anda bakal dijerat dalam pasal penipuan dan sejenisnya. Jadi, sebelum unjuk rasa pun, Anda sudah sangat mungkin masuk bui.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBagaimana polisi bisa tahu Anda memberikan informasi yang bohong? Ada banyak cara. Kalau untuk kelas mahasiswa dan pemuda, polisi sudah punya banyak agen ganda yang disusupkan dalam rapat-rapat perencanaan. Jadi, dengan mudah terdeteksi jika ada laporan yang dibuat Asbun (asal bunyi) ataupun Aspal (asli tapi palsu). Cara lain, tentus saja meliputi kerja teknis seperti menyadap telepon dan SMS dan menelusuri rekening bank Anda. Dan, masih banyak lagi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDan, ini termasuk dalam urusan dana. Polisi bisa membuat kalkulasi berapa anggaran dana yang semestinya disediakan. Kalau kemudian gelegar aksi Anda diperkirakan jauh melebihi dana yang dilaporkan, Anda bisa segera masuk bui karena membuat laporan palsu. Salah satu titik krusialnya menyangkut anggaran pengerahan massa.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePolisi pasti berpatokan pada angka dasar yang suka disebut oleh 'massa bayaran'. Nah, kalau peserta aksi itu membludak, namun anggaran yang dilaporkan dianggap terlalu rendah, bisa dipastikan Anda bakal langsung diuber-uber. Polisi pasti tak mau tahu kalau peserta aksi Anda bukan orang bayaran.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eYang lebih gawat, selalu ada kemungkinan Aksi anda disusupi massa limpahan yang tak ketahuan asal-usulnya. Mereka tak membuat rusuh, tetapi kehadiran mereka sudah cukup membuat laporan Anda terlihat palsu!\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMencegah Penggerusan Citra\u003cbr /\u003eMudah untuk diduga, mengapa aturan ini hendak dilansir. Secara formal, pemerintah pasti bakal memakai pendekatan prosedural. Kurang lebih argumentasinya akan berpokok pada pernyataan, \"demonstrasi tidak dilarang, tapi harus tertib, tidak menganggu dan harus bertanggung jawab\".\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSecara informal, sejumlah kalangan meyakini, pemerintah SBY gerah terhadap aksi-aksi unjuk rasa. Soalnya, aksi-aksi itu dianggap sebagai upaya kampanye negatif terhadap SBY dan kinerja pemerintah secara keseluruhan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHarus diakui, memang ada sebagian unjuk rasa yang sangat mungkin menjadi kendaraan untuk menggerus citra SBY. Persoalannya, hanya gara-gara unjuk rasa yang demikian itu, banyak aksi unjuk rasa lainnya yang bakal terkena imbasnya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTentangan dari publik bakal banyak. Tapi, yang mendukung juga tak kurang-kurang. Yang mendukung ini terutama sekali adalah anasir-anasir dalam tubuh pemerintah dan korporasi yang terus terlilit sejumlah masalah.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKalangan DPR juga dipastikan akan senang dan membiarkan aturan ini dibungkus dalam Peraturan Pemerintah atau yang lebih rendah. Ini menghindarkan mereka terkena imbas negatif sekaligus menjadi penikmat manfaat dari regulasi baru ini.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eNah, terpulang kepada Anda, wahai para pentolan unjuk rasa, untuk menimbang-nimbang resikonya. Ngomong-ngomong, siapa ya yang kasih ide ini ke SBY?\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-1577256815182850424?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/1577256815182850424/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d1577256815182850424\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/1577256815182850424"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/1577256815182850424"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/09/sst-pemerintah-sedang-godok-aturan-baru.html","title":"Sst! Pemerintah Sedang Godok Aturan Baru Soal Berdemonstrasi!"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-253784258613450325"},"published":{"$t":"2008-08-23T00:45:00.001+07:00"},"updated":{"$t":"2008-08-23T00:48:25.749+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Senyum dalam Lamunan"},"content":{"type":"html","$t":"   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 2.4  (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003eCerpen Ahmad Ikhwan Susilo\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e“\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eUntukmu”, dua lembar uang lima puluh ribuan itu diberikannya kepadaku. Aku terima uang itu tanpa banyak kata. Hanya ucapan terima kasih, itupun lirih kuucapkan. Sudah lama sekali aku tak pernah datang ke rumah ini. Rumah ayahku. Rumah keluarga barunya. Istri baru, anak-anak baru, suasana baru, kehidupan serba ba\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eru. Ah, betapa bahagianya ayahku saat ini. Semoga masa lalunya bisa terkubur pelan-pelan.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eAku masih saja mematung dalam dudukku. Aku merasa asing. Dan memang, perasaan ini selalu saja hadir tiap kali aku datang ke rumah ini, seperti tahun lalu. Sekarang rumah ini sungguh berbeda. Banyak renovasi di sana-sini. Rumah ini tersulap menjadi rumah modern. Semakin nyaman dihuni. Sungguh berbeda dengan rumah warisan gono-gini yang kami tempati. Namun, tetap saja aku merasa asing. Asing di rumah ini. Asing dengan keluarga baru ayahku. Bahkan, asing dengan ayahku sendiri.  \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e “\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eKau kemana saja tak pernah kelihatan?”, suara seorang perempuan berseloroh dari dalam kamar sambil melihat TV. Istri baru ayahku. Aku cukup terkaget. Lamunanku membuyar.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e “\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eLagi sibuk kerja”, jawabku singkat. Tidak ada dialog lagi. Suasana kembali hening. Seandainya keponakanku tidak sakit, tentu aku tak akan mau disuruh kakakku mengantar titipan ini. Kakakku tahu bahwa aku enggan ke rumah ini. Bertemu ayah, bertemu keluarga baru ayah. Kakakku mengiba dan aku tak bisa menolaknya. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eAku ingin cepat-cepat pulang. Aku sudah tidak mampu lagi berlama-lama di rumah ini. Aku sungguh tersiksa. Tersiksa dengan segala beban-beban dan dosa-dosa masa lalu. Entah kenapa setiap kali aku bertemu dengan ayahku di rumah ini\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e, beban-beban dan dosa-dosa itu selalu saja muncul dalam anganku. Itulah salah satu sebab kenapa dari dulu – bahkan sekarang – aku tak pernah mau dekat dengan ayah.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"text-indent: 1.06cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eAmanah kakakku sudah aku sampaikan. Aku mencari-cari alasan untuk segera pulang. “Saya pamit, soalnya mau kerja. Masuk malam”, kataku berbohong. Ayah hanya diam tanpa banyak kata. Ia terus saja menatapku. Tak kutahu sedikitpun makna tatapan itu. Aku merasa dilema penuh kenaifan. Sungguh aku tak mampu berlama-lama lagi. Tanpa basa-basi lagi segera kuhidupkan motor lalu pergi meninggalkan rumah ini. Aku merasa lega. Namun, aku masih saja melamun...\u003ca href\u003d\"http://bungkapit21sastra.blogspot.com\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-253784258613450325?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/253784258613450325/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d253784258613450325\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/253784258613450325"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/253784258613450325"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/08/senyum-dalam-lamunan.html","title":"Senyum dalam Lamunan"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-5653222357181230474"},"published":{"$t":"2008-08-23T00:22:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-08-23T00:25:31.329+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Katup Mata Mak"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003eCerpen Ahmad Ikhwan Susilo\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKali ini kuberanikan untuk menatap mata Mak dalam-dalam. Hal yang tak pernah kulakukan sebelumnya seumur hidupku. Sungguh aku merasa tanpa daya melihatnya. Sampai hari ini aku belum sanggup membuat Mak bahagia. Maafkan aku Mak, aku berjanji suatu saat nanti aku pasti akan membahagiakanmu. Aku menangis dalam hati. Mak pun akhirnya tertidur...\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eAku mulai tenang melihat Mak tidur. Paling tidak bebanku berkurang. Dan sudah menjadi kebiasaan Mak kalau dia punya masalah yang tak kunjung ada jalan keluar dia selalu tidur. Mak tak kuat harus berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi kerasnya hidup membuat Mak harus bertahan. Semua harus dihadapi. Semua harus dijalani. Mak terus tegar. Mak selalu sabar. Itu yang aku bangga dari Mak.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKulangkahkan kakiku pelan keluar rumah. Malam ini dingin luar biasa. Di atas bulan tampak bulat sebulat-bulatnya dengan sinar peraknya yang begitu terang menerangi. Menyenangkan untuk dinikmati. Kusempatkan menengok gubuk tempat tinggal kami. Aku berpikir sejenak, kapan aku bisa membuatkan rumah gedung buat Mak? Rumah yang lebih nyaman untuk dihuni. Tidak bocor saat hujan. Tidak lembab bau lumpur. Tampak bagus dan kokoh. Paling tidak seperti rumah kang Naryo. Memang diantara anak-anak Mak, hanya kang Naryo yang bernasib mujur dan sukses. Hidup di kota dan menjadi pegawai bank. Punya istri cantik dan anak yang sehat pula.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSelama ini kepada kang Naryolah Mak selalu meminta bantuan. Apalagi kalau Mak sudah tidak punya uang atau sedang jatuh tempo bayar hutang ke bank plecit. Sedang waktu panen masih lama dan sisa panen sudah habis terjual untuk biaya tanam dan makan sehari-hari, juga bayar hutang sana-sini. Seperti saat ini. Mulanya kang Naryo tak berkeberatan. Namun, lama-kelamaan ada nada kurang menyenangkan dari kang Naryo. Walaupun Mak tak memintanya terus-menerus, hanya tempo-tempo tertentu saja saat Mak sedang terdesak, itupun bisa di hitung dengan jari. Mak memaklumi sikap kang Naryo. Dia sudah berkeluarga dan hidup di kota. Tentu kebutuhannya banyak. Mak tak mau merepotkan. Mak kini jarang meminta bantuannya lagi. Dan aku, aku semakin malu kepada Mak. Aku merasa sungguh tak berguna...\u003ca href\u003d\"http://bungkapit21sastra.blogspot.com\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-5653222357181230474?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/5653222357181230474/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d5653222357181230474\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/5653222357181230474"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/5653222357181230474"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/08/katup-mata-mak.html","title":"Katup Mata Mak"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-6338630986704030229"},"published":{"$t":"2008-08-22T23:59:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2008-08-23T00:18:22.916+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Seorang Penipu yang Menipu dan Orang-Orang Tertipu "},"content":{"type":"html","$t":"   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 2.4  (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003cp style\u003d\"background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;\"\u003eCerpen Ahmad Ikhwan Susilo\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003eTolonglah saya. Saya sangat butuh pertolongan sudara.\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003e Hanya sudara yang mampu menolong saya.  Malam ini saya tunggu di kedai kopi yang biasa sudara satroni tiap malam\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e. Pesan singkat yang baru saja masuk ke handphone-ku tadi sedikit mengusik. Tak jelas siapa nama pengirimnya dan dari mana dia tahu nomorku. Bisa dipastikan orang-orang di kedai yang memberinya. Namun, kenapa dia sangat butuh pertolonganku? Kenapa dia yakin hanya aku yang mampu menolongnya? Ah, ada apa lagi ini...\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"background: transparent none repeat scroll 0% 0%; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eHampir tiap malam selalu kuluangkan waktuku untuk minum kopi di kedai ini. Kedai yang letaknya\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e di pojok perempatan pasar kota. Selain rasa kopinya yang pas di lidahku, ada hal lain yang membuatku terpikat dengan kedai ini. Tak lain adalah cerita para pengunjung kedai. Orang-orang yang datang selalu membawa cerita mereka masing-masing. Tak heran kalau kedai ini tidak pernah kehabisan cerita saban malamnya. Mereka selalu bercerita dengan bebasnya. Membuat mereka yang sebelumnya tidak mengenal atau dikenal saling berkenal satu sama lain. Akhirnya, kedai ini menjadi tempat curahan cerita-cerita mereka melepaskan segala masygul, gelak tawa, dan beban-beban.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"background: transparent none repeat scroll 0% 0%; margin-bottom: 0cm; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, sans-serif;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eAnehnya lagi para pengunjung itu selalu senang tiap kali aku datang ke kedai ini. Bahkan mereka rasa kurang khidmat cerita mereka jika aku tak datang mendengarnya. Memang, tiap kali selesai mendengar cerita mereka, aku selalu menyempatkan untuk menuliskannya. Biasanya cerita-cerita itu aku kirimkan ke koran-koran lokal. Mereka senang bukan main bila salah satu cerita dari mereka yang aku tulis muncul di koran tiap minggu. Jangan heran kalau dinding-dinding kedai ini banyak tertempel potongan koran yang berisi cerita para pengunjung kedai. Itu sebabnya kehadiranku selalu dinantikan. Mereka yang berharap cerita-ceritanya aku tulis...\u003ca href\u003d\"http://bungkapit21sastra.blogspot.com\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-6338630986704030229?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/6338630986704030229/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d6338630986704030229\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6338630986704030229"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6338630986704030229"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/08/seorang-penipu-yang-menipu-dan-orang.html","title":"Seorang Penipu yang Menipu dan Orang-Orang Tertipu "}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-7275943517211946923"},"published":{"$t":"2008-08-16T22:39:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-08-16T22:41:06.161+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Hari Bahagia Buat Mak Mar"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003eSudah tiga puluh lima tahun lebih rumah itu masih terlihat sama. Sebuah rumah yang sangat sederhana yang – bisa dikatakan mirip gubuk reot – kokohnya luar biasa. Padahal pondasi rumah itu hanya tersusun dari batu bata berperekat tanah liat bukan semen. Dinding rumah sama sekali tidak bertembok seperti rumah-rumah gedung milik tetangga di samping kiri-kanan. Melainkan terbuat dari gedhek. Tak sedikit pun terlihat adanya rombakan total dari rumah itu, hanya saja bagian-bagian kecil yang selalu dibenahi, seperti genteng yang telah aus dimakan cuaca, dan jika musim penghujan tiba seisi rumah disibukkan mencari bak atau ember penadah air hujan karena genteng yang bocor di sana-sini. Bukannya tidak mau atau tidak ada niat untuk merombaknya, tetapi apa daya jika uang tidak ada. Bisa makan sehari-hari dan menyekolahkan anak-anaknya saja sudah bersyukur. Cuma setahun sekali diwaktu lebaran tiba rumah itu tampak cerah berbinar dan tersenyum ramah pada siapa saja yang datang bersilaturrahmi. Sapuan putih kapur gamping membuat rumah itu tampak muda lagi.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eWanita itu akrab disapa Mak Mar dan suaminya yang renta bernama Pak Kasim. Mereka bukan petani, bukan pula buruh tani. Pekerjaannya cuma membuat emping dan pulii. Dari situlah ia mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Mereka tidak punya sawah untuk digarap. Hanya kebun warisan  belakang rumah yang tidak begitu luas, tetapi cukup bermanfaat untuk menambah penghasilan, yang ditanami pohon pisang, ketela, bentol, melinjo, pohon kelapa dan beberapa pepohonan penghasil kayu. Selain itu, mereka juga mempunyai ternak yang dipelihara. Dulu ternak yang dimiliki tidak sekedar ayam dan kambing, melainkan juga sapi. Tetapi, semua sapi-sapi itu telah habis terjual untuk biaya kelahiran anaknya yang ke enam dan ke tujuh. Sungguh betapa bahagianya mak Mar waktu itu ketika ia melahirkan anak terakhirnya dengan selamat, dan segera sang suami menggendong si jabang bayi yang baru lahir itu, lalu mengumandangkan adzan di sampingnya. Kini, ternak yang tersisa hanya lah beberapa ekor kambing dan ayam kampung serta burung dara yang masih dipelihara...\u003ca href\u003d\"http://bungkapit21sastra.blogspot.com\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-7275943517211946923?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/7275943517211946923/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d7275943517211946923\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/7275943517211946923"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/7275943517211946923"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/08/hari-bahagia-buat-mak-mar.html","title":"Hari Bahagia Buat Mak Mar"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-6992632989676929681"},"published":{"$t":"2008-08-02T21:59:00.004+07:00"},"updated":{"$t":"2008-12-09T04:20:42.152+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Olimpiade Beijing, Termahal Sepanjang Sejarah"},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://3.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SJR2dil6s2I/AAAAAAAAAGA/I9ikqufkdNI/s1600-h/olimpiade+beijing.jpg\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;\" src\u003d\"http://3.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SJR2dil6s2I/AAAAAAAAAGA/I9ikqufkdNI/s400/olimpiade+beijing.jpg\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5229935317158114146\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003e\u003cbr /\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eTinggal sepekan lagi Olimpiade musim panas ke-29 digelar di Kota \u003c/span\u003e\u003cspan class\u003d\"yshortcuts\" id\u003d\"lw_1217687738_1\"  style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003eBeijing\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e, Tiongkok. Penyelenggaraannya resmi digelar mulai 8 Agustus. Hari-hari terakhir ini merupakan pengecekan terakhir untuk Beijing Organizing Committee of the 29th Olympic Games (BOCOG). Pemerintah Kota Beijing pun memeriksa setiap detail dari persiapan yang telah berlangsung sejak tujuh tahun lalu. Tak hanya memeriksa kesiapan lokasi pertandingan dan SDM pendukungnya, mereka bahkan juga mengawasi perubahan cuaca yang bakal terjadi. Presiden Tiongkok Hu Jintao memang telah memerintahkan masyarakatnya untuk mengamankan jalannya Olimpiade agar sukses. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Tiongkok tegar bertahan dari berbagai masalah yang menaungi negeri itu sejak resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Olimpiade pada 2001. Padahal mereka sempat diganggu dengan isu \u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 0%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:georgia;\" class\u003d\"yshortcuts\" id\u003d\"lw_1217687738_2\" \u003ehak asasi manusia\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e (HAM) yang cukup menghambat perjalanan obor Olimpiade, kemudian gempa hebat Mei lalu yang menewaskan banyak warga di Kota Shicuan, serta inflasi yang cukup tinggi. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Tiongkok memang berambisi menjadikan Olimpiade di negerinya sebagai pesta olahraga dunia paling hebat dan terbesar sepanjang sejarah. Hal itu mungkin tercapai untuk kategori besarnya pengeluaran dana untuk persiapan. Untuk penyelenggaraan ajang ini, mereka mengalahkan tuan rumah Olimpiade 2004, Athena (Yunani). Dana yang dikeluarkan untuk persiapan hingga penyelenggaraan \u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;font-family:georgia;\" class\u003d\"yshortcuts\" id\u003d\"lw_1217687738_3\" \u003eOlimpiade Beijing\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e mencapai lebih dari US$ 42 miliar atau sekitar Rp 378 triliun, sementara Yunani hanya mengeluarkan dana sebesar US$ 16 miliar atau sekitar Rp 144 triliun. Olimpiade Sydney pun hanya menghabiskan dana US$ 2,6 miliar atau sekitar Rp 23 triliun dengan kurs hari ini. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Menurut BOCOG, untuk membangun sebanyak 12 stadion baru, dibutuhkan dana sebesar 13 miliar yuan atau US$ 1,9 miliar atau sekitar Rp 17 triliun. Dari dana yang disiapkan Pemerintah Tiongkok dan pihak swasta untuk pembangunan stadion tersebut, jumlah terbesar dikeluarkan untuk pembangunan Stadion Utama Beijing yang dikenal dengan julukan sarang burung (Bird's Nest). Stadion utama yang memiliki kapasitas 91.000 tempat duduk, telah dinyatakan selesai bulan lalu. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Tiongkok juga menghabiskan miliaran dolar untuk proyek infrastruktur baru seperti pembuatan terminal bandara berbentuk naga yang membutuhkan dana sebesar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 42 triliun dan pembangunan subway ekstra. Pertengahan Juli kemarin, Beijing telah memperbanyak jalur rel kereta. Sekarang, ada delapan jalur dengan total panjang lintasan mencapai 200 kilometer (sebelumnya 142 kilometer). Jalur baru pertama terhubung dengan terminal (yang juga baru dibangun) bandara Beijing. Terminal ini memang disiapkan sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur Olimpiade. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Pembangunan jalur kereta baru dilakukan karena tingkat kemacetan jalan raya dari dan ke bandara biasanya sangat padat. Perjalanan menggunakan mobil pribadi atau taksi bisa memakan waktu dua jam. Dengan kereta jalur baru, masyarakat bisa pergi pulang bandara hanya dalam waktu 20 menit. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Jiang Xiaoyu, seorang ofisial senior komite penyelenggaraan Olimpiade Beijing, yakin segala persiapan telah dilakukan dengan baik. \u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:georgia;\"\u003e Pernyataan senada diungkapkan Direktur Komunikasi Komite Olimpiade Internasi- onal (IOC), Giselle Davies. [Berbagai Sumber/SRA/W- 11/L-9]\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSumber : Suara Pembaruan Daily\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-6992632989676929681?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/6992632989676929681/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d6992632989676929681\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6992632989676929681"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6992632989676929681"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/08/olimpiade-beijing-termahal-sepanjang.html","title":"Olimpiade Beijing, Termahal Sepanjang Sejarah"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://3.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SJR2dil6s2I/AAAAAAAAAGA/I9ikqufkdNI/s72-c/olimpiade+beijing.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-9208107609252233905"},"published":{"$t":"2008-07-27T23:53:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2008-12-09T04:20:42.313+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Belajar Mengembangkan Diri Melalui \"Blog\""},"content":{"type":"html","$t":"\u003ca onblur\u003d\"try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}\" href\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SIyo5HUtWXI/AAAAAAAAAF4/igqRCjbMgj0/s1600-h/1.jpg\"\u003e\u003cimg style\u003d\"margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;\" src\u003d\"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SIyo5HUtWXI/AAAAAAAAAF4/igqRCjbMgj0/s320/1.jpg\" alt\u003d\"\" id\u003d\"BLOGGER_PHOTO_ID_5227738966642219378\" border\u003d\"0\" /\u003e\u003c/a\u003e\r\u003cbr /\u003e 	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 3.0 Beta (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--\u003c/style\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003e\u003c/span\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:Georgia,serif;font-size:85%;\"  \u003eSiswa-siswi dari berbagai sekolah SMP dan SMA di Lampung mengikuti lomba pembuatan 1.000 blog di STMIK Darmajaya, Bandar Lampung, Kamis (24/7). Pembuatan blog yang mendapatkan penghargaan Muri tersebut diselenggarakan untuk memperkenalkan pendidikan berbasis internet atau e-learning kepada semua siswa di Sumatera.(\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\";font-family:Georgia,serif;font-size:85%;\"  \u003eKOMPAS/HELENA F NABABAN / Kompas Images) \u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e   \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eKompas - Minggu, 27 Juli 2008 | 03:00 WIB\u003c/span\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eSebanyak 1.032 siswa SMP dan SMA tampak cekatan bekerja dengan komputer. Dalam waktu 10 menit mereka harus membuka materi yang telah mereka siapkan sebelumnya, memindahkan dan mengatur penampilan blog masing-masing. ”Tadi sempat kesulitan. Waktunya mepet sekali,” ujar Faris Prasojo (15), siswa kelas IX SMPN 4 Bandar Lampung.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eFaris bersama siswa SMP dan SMA se-Lampung, Kamis (24/7), mengikuti lomba membuat blog yang diselenggarakan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Divisi Regional I Sumatera di STMIK Darmajaya, Bandar Lampung. Lomba itu merupakan bagian dari program Education for Tomorrow Telkom Indonesia yang memanfaatkan produk layanan sambungan internet dari Telkom, yaitu Speedy.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eMelalui blog, siswa mengekspresikan pengetahuan maupun karya tulis mengenai berbagai topik yang dipelajari. Blog juga bisa menjadi sarana siswa mencatat pengetahuan yang mereka terima atau pelajari dari guru.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eLomba pembuatan blog itu mensyaratkan peserta yang sudah mendapat pembelajaran mengenai internet di sekolah atau siswa dan guru yang sudah terbiasa memanfaatkan internet sebagai media alternatif informasi selain buku ajar.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eExecutive General Manager Telkom Divisi Regional I M Awaluddin mengatakan, khusus untuk Lampung, Telkom mengembangkan pemanfaatan Speedy untuk membuat the future cyber school.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eSekitar 100 sekolah, baik SMP maupun SMA, di Lampung yang memanfaatkan produk Telkom itu untuk melengkapi aktivitas belajar-mengajar mendapat kesempatan untuk membuat portal atau profil mengenai sekolah masing-masing. Dari 100 sekolah itu, lebih dari 1.000 siswa sudah mengisi portal sekolah.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e”\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003ePara siswa mendapat kesempatan membuat blog mengenai berbagai hal yang sudah mereka pelajari. Blog itu akan ditempatkan pada portal sekolah masing- masing,” kata Awaluddin.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003ePada lomba tersebut, panitia menyediakan dua deret panjang meja yang bisa dipakai 200-an siswa. Di setiap meja tersedia satu laptop yang dihubungkan dengan internet. Peserta lomba menggunakan laptop secara bergantian.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eKarena peserta sudah menyiapkan materi dari rumah, panitia hanya menyediakan waktu 10 menit kepada tiap peserta untuk membuat blog masing- masing.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eAntusiasme siswa sangat terasa. Topik percakapan mereka selalu mengenai blog, baik tampilan maupun isi secara detail.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eBegitu satu siswa selesai membuat blog, teman-temannya segera mengerubuti dan bertanya mengenai proses pembuatan. Demikian juga dengan para guru pembimbing. Mereka langsung menyambut anak didik mereka dan menanyai proses lomba.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e”\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eWah, tegang sekali saya tadi. Waktu terasa cepat sekali, padahal saya tinggal copy and paste materi. Waktu latihan, saya bisa menyelesaikan lebih cepat,” ujar Sami Sungkar (13) pelajar SMPN 4 kelas VIII.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eProgram Education for Tomorrow sudah diselenggarakan di Jawa. Sumatera menjadi wilayah tujuan setelah Jawa.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eSaat ini, dari 140 kabupaten di Sumatera, baru 127 kabupaten yang penduduknya sudah mengakses internet. Rencananya, akhir tahun 2008 semua kabupaten di Sumatera sudah terhubung melalui internet.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eEducation for Tomorrow diselenggarakan sesuai dengan keunggulan dan keunikan komunitas tiap-tiap kabupaten. Dalam hal ini, Lampung mengangkat the future cyber school, yaitu keterhubungan dengan internet sebagai media belajar. Hal berbeda bisa dilakukan di wilayah lain Sumatera.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia,serif;\"\u003eMelalui pembuatan blog, siswa diajarkan untuk mengembangkan diri melalui pengetahuan yang bisa diakses melalui internet. Dengan demikian, siswa, guru, maupun sekolah tidak terjebak pada kegiatan belajar-mengajar konvensional satu arah seperti yang lazim berlaku di Indonesia saat ini. (hln)\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-9208107609252233905?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/9208107609252233905/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d9208107609252233905\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/9208107609252233905"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/9208107609252233905"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/07/belajar-mengembangkan-diri-melalui-blog.html","title":"Belajar Mengembangkan Diri Melalui \"Blog\""}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"media$thumbnail":{"xmlns$media":"http://search.yahoo.com/mrss/","url":"http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SIyo5HUtWXI/AAAAAAAAAF4/igqRCjbMgj0/s72-c/1.jpg","height":"72","width":"72"},"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-4067568662200407712"},"published":{"$t":"2008-07-25T22:26:00.003+07:00"},"updated":{"$t":"2008-07-25T22:35:30.916+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"“Budaya” Tulis, Sudahkah Jadi “Budaya” Kita? "},"content":{"type":"html","$t":"   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 3.0 Beta (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; font-weight: normal;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eBungkapit21\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;\" align\u003d\"right\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e“\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003eYang tertulis akan tetap mengabadi dan yang terucap akan berlalu seperti angin...”\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e	\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eDua tahun yang lalu, di sebuah kedai buku di Jogja, saya bertemu dan mulai berkenal akrab dengan seorang aktivis 98 yang kini masih konsisten di garis perjuangan. Di usianya yang belum bisa dikatakan tua dan tak pantas lagi disebut muda itu, ia masih saja berteriak lawan. Bahkan ia tak lelah untuk terus-menerus memprovokasi mereka, para generasi muda, untuk selalu menempuh garis perjuangan. Mempunyai keberpihakan terhadap massa rakyat yang tertindas. Karena sangat jelas bahwa revolusi merupakan alternatif pilihan yang tepat. Dengan kekuatan massa rakyat yang kuat, terdidik, terpimpin, dan terorganisisir. Hanya saja bentuk perjuangan yang dilakukan seorang yang saya kenal ini lebih banyak melalui pena. Ia tak sering lagi turun ke jalan. Ia hanya menulis. Menulis untuk mengagitasi. Menulis sembari berpropaganda.\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eSuatu waktu ia bertanya kepada saya, “Kapan \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003enie\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e kawan-kawan buat buku? Atau setidaknya kalau ada yang punya tulisan, kumpulkan, dan coba kirim ke penerbit. Masak \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003egak\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e ada yang suka menulis?” sontak saya merasa tertampar dengan pertanyaan tersebut. Dalam benak saya berkata, “Niat \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003eseh\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e ada. Tapi, \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003elha\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003eya\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e sebatas niat, belum bisa terealisasi. Jangankan menulis untuk sebuah buku, menulis sebuah artikel untuk buletin internal saja hanya segelintir kawan yang rutin melakukannya.”\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eMenulis memang bukan perkara yang sepele. Ia bukan \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003esuatu hal yang mudah bukan pula suatu hal yang sulit. Sebegitu pentingkah budaya tulis ini kita budayakan di dalam organisasi kita? Seberapa banyak pula di antara kita yang sudah memulai dan membiasakan budaya tulis ini? Ataukah jangan-jangan kita masih melanggengkan budaya lisan dari jaman feodal? Kalau pun itu yang terjadi, maka kelak yang ada hanyalah pendongeng dan pendengar cerita...\u003ca href\u003d\"http://bungkapit21artikel.blogspot.com/\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-style: italic;\"\u003eselengkapnya\u003c/span\u003e\u003c/a\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-4067568662200407712?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/4067568662200407712/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d4067568662200407712\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/4067568662200407712"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/4067568662200407712"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/07/budaya-tulis-sudahkah-jadi-budaya-kita.html","title":"“Budaya” Tulis, Sudahkah Jadi “Budaya” Kita? "}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-6537784271245226089"},"published":{"$t":"2008-07-24T21:28:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-07-24T21:29:22.535+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"PERS RELEASE"},"content":{"type":"html","$t":"   	\u003cmeta equiv\u003d\"CONTENT-TYPE\" content\u003d\"text/html; charset\u003dutf-8\"\u003e 	\u003ctitle\u003e\u003c/title\u003e 	\u003cmeta name\u003d\"GENERATOR\" content\u003d\"OpenOffice.org 3.0 Beta (Linux)\"\u003e 	\u003cstyle type\u003d\"text/css\"\u003e 	\u003c!-- 		@page { size: 21.59cm 27.94cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--\u003e 	\u003c/style\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size: 16pt;font-size:130%;\" \u003e\u003cb\u003eSERIKAT MAHASISWA INDONESIA\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e  \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"center\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-family:Georgia, serif;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003cb\u003eLAWAN PENJAJAHAN MODAL DAN ELIT-ELIT POLITIK ANTI RAKYAT \u003c/b\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eBATALKAN KENAIKAN BBM, BERIKAN SUBSIDI YANG SEBESAR-BESARNYA UNTUK PENDIDIKAN GRATIS DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:85%;\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003e.\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"center\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eSalam Pembebasan\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eDesakan yang \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003ekuat dari kaum kapitalisme internasional untuk terus meliberalisasi seluruh kegiatan ekonomi dan tata politik nasional selalu mendapatkan restu dari elit-elit politik yang bertebaran di panggung trias politika nasional. Maka dengan segala antusiasme yang tinggi semua elit politik anti rakyat yang duduk di parlemen, jajaran eksekutif dan yudikatif, mereka menyambutnya dengan menyiapkan dan mengesahkan berbagai macam produk perundang-undangan dalam bentuk PP, UU, Perpes, Permen, dll.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eMereka semua bersatu padu untuk lebih mengarahkan masa depan Indonesia ke dalam sistem ekonomi-politik yang lebih ramah terhadap pasar dan terbuka atas intervensi pemodal asing maupun dalam negeri(baca: Neoliberalisme). Namun sangat tidak ramah bagi pertumbuhan kesejahteraan ekonomi rakyat.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eSetidaknya sejak tahun 1998 hingga saat ini, liberalisasi terjadi dihampir semua bidang ekonomi-politik yang terus berjalan di atas relnya, semakin mendasari negara untuk mencabut perlahan-lahan dan semua subsidi-subsidi vital bagi rakyat semacam BBM, listrik, pertanian, lalu dijualnya sebagian besar aset BUMN-BUMN strategis(PT.KAI, PT TELKOM, PT.Semen Gresik, dll) kepada pihak swasta dalam dan luar negeri dengan alasan untuk mengurangi beban pengeluaran negara dan membangun kemandirian ekonomi rakyat.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eSementara itu secara bersamaan negara juga telah membuka lebar pintunya untuk pasar dan perdagangan bebas di beberapa kawasan ekonomi khusus Indonesia untuk membangun KEKI yakni Indonesia harus memperbaiki segala kebijakan hukumnya, konsistensi kebijakan, dan adanya regulasi untuk menjalankan kebijakan, perbaikan infrastruktur dan pemberian intensif kepada investor/pemodal dalam dan luar negeri(Bisnis Indonesia, 7/8/2007). Hal ini kemudian oleh negara diatur dalam PERPU No.1 Tahun 2007 tentang penetapan syarat KEKI dan wilayah prioritas sebagai amandemen dari UU No.36 tahun 2000 tentang Free Trade Zone(FTZ). Di Indonesia terdapat 112 kawasan industri di 10 propinsi yang akan disiapkan untuk menjadi KEKI. Kesepuluh propinsi itu adalah Aceh, Sumut, Bintan-Batam, DKI Jakarta, Jateng, Jatim, Sulsel, dan Kaltim.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eHingga saat ini ternyata sistem kepemilikan struktur agraria nasional belum berubah total dengan model yang kerakyatan. Akhirnya menyebabkan sumber-sumber agraria seperti hutan, laut, dll di Indonesia secara perlahan terus dikuasai oleh para pemodal besar untuk kepentingan pemenuhan bahan baku industri MNC/TNC yang beroperasi secara eksploitatif, akumulatif, dan ekspansif. Beberapa gambaran singkat di atas itu bisa sangat nyata bahwa liberalisasi ekonomi-politik di Indonesia saat ini sudah bersinergi kuat dalam prakteknya. Keadaan itulah yang menjadi salah satu sebab utama kenaikan BBM rata-rata sebesar 28,7 % pada tanggal 24 Mei 2008.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eJika dilacak dari akar sejarahnya sekitar tahun 2000, Amerika masuk lewat USAID menyediakan hutang untuk memulai proses liberalisasi sektor migas baik di sektor hulu maupun hilir. Mereka bekerja sama dengan IDB dan WB untuk menyiapkan draft UU yang ditujukan mereformasi total sektor energi secara keseluruhan. Maka pada tahun 2001 terbitlah UU migas yang di dalam salah satu pasalnya UU Migas 2001 pasal 28 Ayat 2 dengan tegas menyatakan bahwa: “Harga BBM dilepas sesuai dengan mekanisme pasar.” Aturan itu semakin kuat dengan skema pada tahun 2005 dan penjelasan APBN-P 2008 tentang pencabutan subsidi BBM secara bertahap sampai pada akhirnya pemerintah tidak mensubsidi BBM sama sekali. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa selambat-lambatnya pada tahun 2009 harga BBM di Indonesia sama dengan BBM internasional sebesar Rp.12.000/liter.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eAkibat liberalisasi migas sektor hulu, Indonesia sudah banyak mengalami kerugian besar akibat dari pembayaran \u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003ci\u003ecost recovery\u003c/i\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e trilyunan rupiah kepada kontraktor migas asing. Dan kondisi itu diperparah dengan liberalisasi sektor hilir(eceran) migas sehingga mengakibatkan penguasaan sektor migas di Indonesia sekarang telah bergeser dari pemerintah(Pertamina) ke raksasa-raksasa minyak dunia semacam Shell, Caltex, Petronas, Gulf Oil, Agip, Chevron, British Petroleoum, Conoco Philip, dll. Mereka para raksasa minyak dunia itu telah mengantongi izin untuk membuka 2000 SPBU di seluruh Indonesia yang akan beroperasi secara penuh pada tahun 2010.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eAkhirnya dalam pandangan Serikat Mahasiswa Indonesia secara tegas melihat bahwa pemerintah dan seluruh elit poltik yang memberikan andil besar dalam menaikkan BBM sesungguhnya bukan disebabkan karena membengkaknya beban APBN 2008 yang terapresiasi oleh melambungnya harga minyak dunia, sehingga menanggung kerugian yang sangat besar. Padahal sebab-sebab kenaikan BBM di Indonesia lebih dikarenakan adanya program-program liberalisasi sektor energi dan migas di dalam negeri. Tingginya cost recovery pengelolaan migas yang dibayarkan kepada kontraktor/perusahaan pemenang tender eksplorasi ladang minyak di Indonesia dan tidak jelasnya DMO yang ada.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eIklim liberalisasi(penjajahan modal) juga semakin menerjang sektor pendidikan nasional dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, yang akarnya sudah ditancapkan pada saat Indonesia menandatangani GATTS dan AFAS yang mengatur perdagangan bebas di 12 sektor jasa; salah satunya adalah pendidikan. Bisa dirasakan secara konkrit dampaknya yakni biaya pendidikan makin mahal dan semakin susah dijangkau oleh rakyat yang saat ini mengalami penurunan daya beli dan konsumsi akibat membengkaknya harga-harga di pasaran.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e0penataan pilot proyek liberalisasi alias penataan industrialisasi perguruan tinggi pasca reformasi sudah disiapkan secara sistematis melalui payung PP No.60 Tahun 1999 Tentang Perguruan Tinggi, PP No.61 Tahun 1999 Tentang Penetapan Perguruan Tinggi Sebagai Badan Hukum Milik Negara, PP No.151 Tahun 2000, PP No.152 Tahun 2000, PP No.153 Tahun 2000, PP No.154 Tahun 2000, dan PP No.06 Tahun 2004. Itulah kelengkapan legal untuk menata empat perguruan tinggi negeri tertua di Indonesia, yaitu ITB, UI, UGM, dan IPB yang kemudian diikuti oleh USU, UPI, dan terakhir UNAIR menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara. Lalu lebih disempurnakan lagi agar dalam bentuk UU No.20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan RUU BHP. Tentu saja bisa kita bayangkan bagaimana pendidikan nasional ke depan yang sangat pro modal dan anti terhadap rakyat khususnya mereka yang berpendapatan rata-rata 1juta/bulan.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eIndonesia yang memiliki 222.781.000 jiwa(BPS, 2005) dengan angkatan sekolah di seluruh Indonesia sekitar 38,5 juta anak usia SD 6-12 tahun, 25,6 juta anak usia SMP 13-15 tahun, dan 12,8 juta anak usia SMA 16-18 tahun(Kompas, 26/2/2005) dan rata_rata tingkat partisipasi di pendidikan tinggi sekitar 14% dari jumlah penduduk usia 19-24 tahun. Tiga tahun yang lalu saja ketika BBM belum naik betapa beratnya rakyat menjangkau pendidikan yang layak. Maka saat ini jumlah calon mahasiswa yang masuk perguruan tinggi mengalami penurunan rata-rata sebesar 20-27%. Bahkan UGM juga mengalami penurunan calon mahasiswa yang cukup signifikan.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003ePerlu dicatat bahwa pada hari ini tanggal 17 Juli 2008, Serikat Mahasiswa Indonesia bergerak secara nasional dan sadar sepenuhnya bahwa neoliberalisme sesungguhnya menyebabkan BBM naik. Diswastanisasikan BUMN-BUMN strategis, dicabutnya subsidi-subsidi untuk rakyat dan mahalnya biaya pendidikan nasional.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eOleh karena itu Serikat Mahasiswa Indonesia menutut :\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e \u003col\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eBatalkan 	kenaikan harga BBM dan tolak kenaikan harga BBM tahun depan.\u003c/p\u003e 	\u003c/li\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eBatalkan 	kenaikan harga LPG\u003c/p\u003e 	\u003c/li\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eTolak 	rencana kenaikan TDL\u003c/p\u003e 	\u003c/li\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eBerikan 	pendidikan gratis, ilmiah, demokratis dan bervisi kerakyatan untuk 	seluruh rakyat.\u003c/p\u003e 	\u003c/li\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eTolak 	penjualan aset-aset vital milik negara  	\u003c/p\u003e 	\u003c/li\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eBerikan 	kembali subsidi kepada rakyat yang sebesar-besarnya\u003c/p\u003e 	\u003c/li\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eAdili 	dan hentikan tindakan represifitas aparat negara terhadap rakyat.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eSerikat Mahasiswa Indonesia Menyerukan Kepada Massa Rakyat Untuk:\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e \u003col\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eMengkampanyekan 	terus kegagalan-kegagalan praktek ekonomi politik neoliberalismedi 	Indonesia.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Mengapa hal tersebut patut dilakukan? Karena memang secara konkrit massa rakyat di Indonesia belum banyak yang mengetahui apa praktek neoliberalisme itu dengan segala cara kerjanya yang membuat rakyat miskin, jutaan tenaga produktif menjadi pengangguran, hilangnya subsidi publik, dijualnya BUMN-BUMN strategis, diupahnya buruh secara murah, pendidikan nasional semakin mahal tak terjangkau oleh anak-anak dari keluarga miskin, dll.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"2\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eNegara 	harus bertanggung jawab secara konsisten dalam meberikan subsidi 	yang layak dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan massa rakyat.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eMengapa hal itu patut dilakukan oleh massa rakyat? Karena saat ini pemerintah yang berkuasa adalah sangat setia dengan garis politik neoliberalisme yang sangat anti terhadap pemberian subsidi sosial dengan alasan dapat menyebabkan pemborosan (inefisiensi) APBN. Kalau demikian adanya maka tuntutan untuk memperbesar subsidi adalah hal yang wajib terus diminta oleh massa rakyat agar negara ini semakin terdorong ke arah anarki APBN yang akhirnya mempertajam krisis internalnya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"3\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eMemblejeti 	praktek dan perilaku obral janji palsu dari partai-partai 	politik{Golkar, PDI-P, PKB, PPP, Demokrat, PAN, PKS, dll) dan 	elit-elit politik borjuis.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Mengapa hal tersebut patut dilakukan? Karena praktek dan perilaku politiknya lebih banyak pro pemodal yang mendukung dan membiayai kegiatan secara langsung maupun tidak langsung sehingga jika mereka menang dalam pemilu tentu saja kemenangan itu diperuntukkan kepada para pemodal, bukan untuk massa rakyat yang menjadi konstituenya.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"4\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eMemperkuat 	dan terus membangun hubungan politik secera berkesinambungan dengan 	organisasi rakyat disemua teritori perlawanan dan sektor massa 	rakyat dengan mempergencar pendidikan politik kerakyatan yang 	kongkrit.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Mengapa hal tersebut patur dilakukan? Karena sampai saat ini yang bisa dipercaya serta merekalah yang bekerja secara tulus demi terwujudnya cita-cita pembebasan nasional dari imperialisme adalah organisasi-organisasi rakyat yang hampir semua aktifitas politiknya mendidik dan menggerakkan kesadaran berlawan anggota dan rakyat pada umumnya.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"5\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eMembangun 	persatuan politik yang progresif dan kerakyatan untuk mengimbangi 	hegemoni elit-elit politik dan kaum pemodal.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Mengapa hal tersebut patut dilakukan? Jelas ini adalah usaha untuk menyatukan semua visi, taktik perjuangan agar semua organisasi rakyat yang saat ini bergerak saling mendukung secara positif sehingga menjadi alternatif terbaik bila bersatu dalam wadah perjuangan bersama.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eJalan Keluar Untuk Rakyat :\u003c/b\u003e\u003c/p\u003e \u003col\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003ePendidikan 	nasional gratis, ilmiah, demokratis, dan bervisi kerakyatan\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eIni adalah salah satu syarat yang mutlak untuk membangun kebudayaan nasional yang tangguh dan mandiri serta menciptakan tenaga-tenaga produktif yang maju dengan visi kerakyatan yang kuat. Sehingga sangat berguna bagi pelaksanaan program-program nasional yang strategis serta bersifat kerakyatan.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"2\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eBangun 	industri nasional(industri dasar, industri berat) yang kerakyatan\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Jelaslah bahwa sebagai sebuah negara yang dipersiapkan untuk membendung serbuan komoditas barang dagangan dan jasa dari negara-negara imperialis. Pada satu sisi ini juga sebagai syarat utama untuk menuju tatanan masyarakat baru yang maju.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"3\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eLaksanakan 	reforma agraria sejati\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Sebagai salah satu modal untuk pembangunan nasional strategis serta terencana juga dibutuhkan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat pedesaan sehingga bisa meredam laju urbanisasi ke perkotaan akibat timpangnya struktur penguasaan sumber-sumber agraria. Di sisi lain juga berguna untuk pemenuhan bahan-bahan baku industri nasional.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"4\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eNasionalisasi 	aset-aset vital demi kesejahteraan rakyat\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Sebagai salah satu modal yang besar dan pembiayaan bagi pembangunan nasional terencana yang strategis. Di sisi lain juga bisa menunjukkan kedaulatan ekonomi politik nasional dengan karakter anti imperialisme.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"5\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003ePutus 	hubungan ekonomi-politik dengan negara dan kaum imperialis di 	seluruh dunia.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003eUsaha nasional secara politik untuk menegakkan kedaulatan politik nasional yang anti intervensi politik kaum imperialis yang berwatak menjajah massa rakyat maupun nation yang memang selama ini Indonesia telah tidak memiliki kedaulatan politik dalam arti sesungguhnya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003col start\u003d\"6\"\u003e\u003cli\u003e\u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003eBangun 	hubungan ekonomi politik yang adil dan seimbang dengan negara-negara 	progressif dan anti imperialis.\u003c/p\u003e \u003c/li\u003e\u003c/ol\u003e \u003cp style\u003d\"margin-left: 0.64cm; margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e Menciptakan dunia yang cinta damai dan saling memajukan satu dengan yang lain dalam konteks hubungan internasional yang seimbang dan kerjasama ekonomi politik yang saling menguntungkan. Di sisi lain bisa menciptakan blok baru yang menjadi lawan langsung dari politik internasional kaum imperialisme di dunia ini.\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\" lang\u003d\"id-ID\"\u003e\r\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003eSalam Pembebasan   \u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003cspan lang\u003d\"id-ID\"\u003e\u003cb\u003e    \u003c/b\u003e\u003c/span\u003e \u003c/p\u003e \u003cp style\u003d\"margin-bottom: 0cm;\" align\u003d\"justify\"\u003e               \u003c/p\u003e \u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-6537784271245226089?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/6537784271245226089/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d6537784271245226089\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6537784271245226089"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/6537784271245226089"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/07/pers-release_24.html","title":"PERS RELEASE"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-7803909359788196206"},"published":{"$t":"2008-07-13T23:05:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2008-07-13T23:11:26.572+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kajian Sastra dalam Masyarakat Indonesia"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-weight: bold;\"\u003e           Oleh Aprinus Salam\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003eDalam sejumlah kesempatan, sering muncul pertanyaan apa hubungan kajian sastra dengan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia? Pertanyaan tersebut tentu perlu mendapat tanggapan serius, bukan saja berkaitan dengan relevansi kajian sastra terhadap masyarakat, melainkan pula terhadap orientasi dan masa depan ilmu dan kajian sastra itu sendiri.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTidak dapat dimungkiri masih sering muncul pertanyaan apa yang dapat dipelajari dari sebuah puisi, cerpen, atau novel. Latar belakang pertanyaan tersebut muncul karena masih terpeliharanya asumsi dan persepsi bahwa mempelajari puisi seolah mempelajari keindahan olah kata. Atau mempelajari novel seolah mempelajari sebuah cerita fiktif, cerita yang mengada-ada, yang hampir tidak berhubungan dengan fakta-fakta dalam realitas kehidupan. Itu pula sebabnya, kemudian muncul pertanyaan, setelah mempelajari sastra, atau lulusan sarjana sastra itu bisa bekerja di mana? Atau instansi apa yang dapat menerima sarjana yang lulus karena mempelajari puisi, cerpen, atau novel?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDi Indonesia, pertanyaan tersebut tentu tidak sepenuhnya salah. Hingga hari ini, pelajaran dan pengertian sastra (terutama di SMP dan SMA), masih bergerak dalam penapisan struktural. Bahkan beberapa kurikulum di perguruan tinggi pun masih ''mempertahankan'' paradigma itu sehingga persoalan sastra seolah bergerak hanya dalam koridor tema, penokohan, latar, alur, sudut pandang penceritaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Pengetahuan itu dipelihara, disimpan, dan diteruskan sehingga para pelajar (dan masyarakat) masih ''berkeyakinan'' bahwa persoalan sastra tidak lebih dari itu. Yang mengherankan, sejumlah buku (teori) yang belakangan terbit tentang kesusastraan masih meneruskan tradisi itu.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMemang, penapisan struktural penting karena bagaimanapun teori itu menjadi dasar bagi pengetahuan kesusastraan. Masalahnya, teori-teori struktural justru mulai tidak relevan karena tidak menjelaskan sejarah, konteks, dan sosiologi kehadiran sebuah karya sastra. Teori struktural juga tidak meletakkan substansi karya sastra sebagai sebuah karya yang mampu mengemas persoalan manusia dan masyarakat secara esensial. Hal yang dimaksud sebagai sesuatu yang esensial adalah bahwa berbagai persoalan faktual yang dihadapi manusia dikemas dalam suatu ''abstraksi universal'' sehingga ''fakta cerita'' (fiksi) menjadi sesuatu yang mampu menelanjangi hakikat persoalan manusia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBelakangan ini, mengingat sejumlah persoalan yang semakin runyam, relevansi dan kontribusi kajian sastra semakin dipertanyakan dalam ikut memikirkan masalah yang dihadapi masyarakat Indonesia. Masalah-masalah itu antara lain, seperti kita sudah sangat tahu, masalah kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan. Dalam perspektif yang lebih spesifik terdapat juga masalah korupsi, ketidakadilan dalam berbagai bentuknya, konflik dan kekerasan, kesemrawutan sosial, keuangan yang mahakuasa, dan sebagainya.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMemang, pertanyaan itu terkesan tidak adil ketika sastra, pengetahuan yang dianaktirikan, harus menanggung beban masalah sebesar dan seberat itu. Akan tetapi, harus ada sikap-sikap yang bersifat ideologis dan berpihak terhadap masalah bangsa dan negara, ketika ilmu-ilmu lain, seperti ekonomi, politik, atau teknologi, justru terlibat dalam persoalan (dan penyebab) kemiskinan, kebodohan, atau bahkan ketidakadilan.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e* * *\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePersoalannya adalah bagaimana sesuatu yang esensial tersebut dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia. Dalam hal itu, hal yang perlu dipahami adalah bahwa karya sastra merupakan ''hasil seleksi'' dari berbagai peristiwa dan kejadian, disaring secara substansial dari berbagai motif fakta kemanusiaan, dipikirkan dengan jeli dan rumit, dan dikemas dalam satu jaringan tekstual yang berfungsi sebagai penanda. Hasilnya adalah sebuah teks yang dapat dijadikan ''sumber informasi'' dalam memahami berbagai persoalan manusia dan suatu masyarakat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKunci utama persoalan terletak pada adanya pengakuan bahwa pada akhirnya hal-hal yang perlu dipelajari dan ditafsirkan, baik dalam ilmu politik, hukum, sosial, ekonomi, agama, budaya, bahkan teknologi adalah \u003ci\u003ekata\u003c/i\u003e, ungkapan, pernyataan, atau \u003ci\u003ecerita\u003c/i\u003e. Dalam kasus-kasus politik atau agama, memang terdapat fakta-fakta di tingkat kenyataan, seperti kasus-kasus kekerasan atau pergeseran-pergeseran kecenderungan/fenomena kehidupan sosial.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKetika kita mempelajari kasus kekerasan atau berbagai perubahan kecenderungan tersebut, yang kita pelajari adalah kata, ungkapan, cerita, atau tegasnya teks. Dalam arti, berbagai kejadian atau peristiwa itu pada akhirnya direkam (dalam berbagai cara), disampaikan, didiskusikan, dianalisis, ditafsirkan, dicarikan solusinya, berdasarkan hasil laporan, cerita, atau teks.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eKasus mutakhir yang membuat heboh, misalnya, kasus SKB tiga menteri berkaitan dengan posisi atau kedudukan Ahmadiyah. Hal yang membuat heboh adalah teks keputusan itu, yang diramaikan adalah teks. Sejumlah peneliti dalam mendapatkan informasi juga berdasarkan wawancara (cerita informan) atau berdasarkan sejumlah tulisan (teks). Lantas, apa bedanya dengan karya sastra?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eHal yang membedakan adalah karya sastra ditulis dan dikemas dalam satu abstraksi peristiwa/kejadian sehingga karya sastra menjadi sesuatu yang, seolah-olah, tidak berhubungan dengan kenyataan. Padahal, karya sastra justru mengangkat peristiwa atau kejadian tersebut secara berbeda, secara simbolik, dan dalam cara-cara tertentu justru menjadi sebuah teks yang informatif karena berbagai kejadian disajikan dalam sebuah cerita yang inspiratif dalam memahami peristiwa atau kejadian yang terjadi di masyarakat.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDalam paradigma itulah, kajian sastra selayaknya dapat dikembangkan menjadi salah satu sumber dalam memahami apa yang sesungguhnya sedang terjadi di masyarakat. Novel \u003ci\u003eProyek\u003c/i\u003e karya Ahmad Tohari, misalnya, dapat dijadikan salah satu bahan bagaimana menjelaskan alur korupsi, bagaimana karakter-karakter yang terlibat, sebab-sebab terjadinya korupsi, dan bagaimana korupsi menjadi suatu budaya dalam masyarakat Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eNovel\u003ci\u003e Mantra Pejinak Ular\u003c/i\u003e karya Kuntowijoyo dapat dijadikan informasi dan inspirasi bagaimana memahami jalannya politik di Indonesia. Bahkan juga dapat dipakai bagaimana menggerakkan masyarakat untuk lebih sadar berhadapan dengan lingkungan hidup. Novel Umar Kayam \u003ci\u003ePara Priyayi\u003c/i\u003e dan \u003ci\u003eJalan Menikung\u003c/i\u003e dapat dijadikan bahan yang sangat penting dalam memahami persoalan perubahan sosial Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eTentu banyak karya sastra lain, termasuk cerpen dan puisi, yang dapat dijadikan bahan atau sumber informasi, sumber inspirasi, dalam memahami persoalan kriminalitas, persoalan demokrasi, ketidakadilan, dan berbagai konflik dan kekerasan yang terjadi di Indonesia. Berbagai kajian itu selayaknya diapresiasi dengan kejadian di tingkat kenyataan sehingga karya sastra mendapat posisi yang lebih kontekstual dalam persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSaya mengira, mengingat berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia, kajian (sastra) yang tidak mencoba membantu menjelaskan atau memberi pemahaman baru, atau yang tidak mencoba membantu mencarikan solusi dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi Indonesia, bangsa yang hampir tidak pernah keluar dari rundung kemalangan dan kemiskinan, kajian itu secara relatif mungkin tidak berguna. (*)\u003cbr /\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e*) \u003cb\u003eAprinus Salam\u003c/b\u003e, dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, Jogjakarta\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSumber : Jawa Pos, 13 Juli 2008\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-7803909359788196206?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/7803909359788196206/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d7803909359788196206\u0026isPopup\u003dtrue","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/7803909359788196206"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/7803909359788196206"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/07/kajian-sastra-dalam-masyarakat.html","title":"Kajian Sastra dalam Masyarakat Indonesia"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-3880792911939701730"},"published":{"$t":"2008-07-13T22:13:00.002+07:00"},"updated":{"$t":"2008-07-13T23:04:52.898+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cstrong\u003eOleh : Afrizal Malna\u003c/strong\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cstrong\u003e\u003c/strong\u003e\u003cbr /\u003e\u003cstrong\u003e\u003c/strong\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSelamat tinggal kedaerahan .... Selamat tinggal lelaki dan perempuan ....\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSelamat tinggal ”nasionalisme sastra” yang terperangkap dalam masalah-masalahnya sendiri.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eKita bukan lagi suku-suku, kita adalah manusia. Kita bukan lagi lelaki dan perempuan, kita adalah manusia. Suatu hari nanti, dan kalau lebih bergegas lagi, sekarang juga: selamat tinggal tradisi, kalau globalisasi begitu mencemaskan kita. Dan kecemasan itu menjadi celaka ketika lewat tradisi, kita justru kembali lagi ke dalam bentuk kolonialisme baru manakala tradisi itu sendiri ternyata adalah hasil seleksi sejarah yang dilakukan kekuasaan kolonial, manakala tradisi itu telah jadi salah satu ikon dari struktur penindasan kolonial yang akar keberadaannya telah mengalami kosmetika.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eKita adalah generasi pasca-Indonesia, kata YB Mangunwijaya, yang sadar bahwa Indonesia adalah ikon pasca-kolonial justru dari hasil konstruksi sejarah kolonial. Dan nasionalisme kita lebih luas dari Indonesia itu sendiri.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eGlobalisasi tidak lantas dihadapi lewat teori-teori konflik, seperti budaya tanding, dengan mengedepankan kembali budaya lokal. Percayalah, sejarah akan menenggelamkan kita kembali untuk bisa bersama-sama menemukan bahasa dunia dalam persamaan dan perbedaan kita. Kita tidak akan pernah mencapai ”multikulturalisme” yang kini sedang menjadi isu global kalau perbedaan ditempatkan sebagai posisi yang paling artikulatif. Sama gentingnya kalau persamaan juga ditempatkan dalam posisi yang paling artikulatif.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eImajinasi kita ada dalam suara hujan yang bersayap. Imajinasi kita menembus nama-nama kita, menembus ketakutan-ketakutan kita dan kita bertemu kembali dengan kenyataan tak terbantahkan bahwa kita hidup dengan pagi dan malam yang sama, walaupun kita memiliki musim yang berbeda.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eDunia kritik sastra kita masih berdiri di belakang, bahkan di sebuah tikungan antara fiksi, kenyataan, dan metode membaca sastra dari balik jendela berkaca. Kritik yang masih ragu-ragu melihat bahwa sebenarnya karya- karya sastra kita masa kini sudah memasuki tema-tema ”trans-lokal”, ”trans-jender”, dan ”trans- pop”. Hubungan yang akrab dengan data, sains, dan filsafat sebagai wacana yang tidak lagi berada di menara gading, melainkan ada dekat di sekitar mereka. Generasi yang memperlakukan setting dalam novel-novel mereka seperti mengganti wallpaper dalam cover komputer, tetapi mereka menguasai detail setting itu lewat penelitian yang mencengangkan.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSebagian dari generasi itu, bukan lagi generasi sastra dengan pergaulan komunitas sastra. Sastra bagi mereka mungkin tidak lebih dari sekadar media individual dan tidak harus menjadi bagian dari komunitas sastra yang menghabiskan waktu-waktu mereka, mengorbankan berbagai momen dari pertemuan, pergaulan dan realitas yang lain yang mungkin terjadi.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eKesan-kesan seperti ini, walaupun tidak terlalu eksplisit, dapat ditangkap dalam uraian Sumaryono Basuki ketika menjelaskan karya-karya prosa (cerita pendek maupun novel) yang terbit setelah reformasi. Terutama karya- karya yang ditulis para sastrawan perempuan. Pembicaraan yang dilakukan dalam forum ”Temu Sastra Indonesia 1” di Jambi, 7-10 Juli kemarin.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eKetika sastra bergaul kian dekat dengan filsafat, sains, dan sejarah, seakan-akan wacana-wacana ini ada di halaman belakang rumah kita dan bukan di halaman depan, maka kita juga bisa mengatakan dengan rela: sastra sudah mati. Sastra sudah menyelusup jauh memasuki berbagai wacana utama dan merajut kembali wacana-wacana itu dalam rajutan baru di mana kita mulai bisa berpikir dengan imajinasi, menembus cadar politik pemaknaan untuk membaca sistem makna yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari kita lewat imajinasi dan data.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003ePada saat itu, karya sastra mulai menyimpan harapan untuk lahirnya masyarakat sastra yang membaca dan menulis dengan kesadaran sebagai ”politik wacana”. Dan bertanya lagi: masa depan seperti apa, kehidupan bersama seperti apa yang mungkin tumbuh dari sistem makna yang mereka jalani sekarang?\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003ePolitik wacana yang mengerti bahwa setiap kemerdekaan dibatasi dengan kemerdekaan orang lain, sampai kemerdekaan itu tidak ada, sampai kemerdekaan itu mati, seperti dinyatakan Putu Wijaya dalam monolognya di forum itu. Ketika kemerdekaan memang mulai dibatasi dengan adanya kemerdekaan lain, maka orang tidak perlu lagi meneriakkan kemerdekaan, tidak perlu lagi mengemis kemerdekaan, karena kemerdekaan telah menjadi makna dari keberadaan kita.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eForum ini, di samping membicarakan tema-tema kritik sastra (Sumaryono Basuki, Harris Effendi Thahar, Suminto A Sayuti, Hary S Harjono, Ahda Imran, dan Maizar Karim), juga dilengkapi dengan tema-tema advokasi dan promoting sastra dengan menghadirkan profesi hukum dan beberapa redaktur media massa cetak (Abdul Bari Azed, Fadillah, Ahmadun Y Herfanda, Kartini Nurdin, dan Triyanto Triwikromo).\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eTema advokasi ini mencoba mendudukkan bahwa kedewasaan kehidupan publik ditentukan oleh kesadaran yang berjalan seimbang antara hak dan kewajiban. Keduanya tidak harus saling menghukum atau meniadakan yang lain, dengan menempatkan karya yang dihasilkan individu dari kehidupan publik itu sebagai sesuatu yang mudah dihancurkan. Perapuhan terhadap posisi individu, pada gilirannya berimplikasi menghasilkan kehidupan publik yang tidak pernah dewasa, sensitif, dan mudah diprovokasi yang membakar dirinya sendiri.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003ePara sastrawan yang datang dalam forum ini dari Kalimantan, Jawa, Bali, Sumatera dan, Nusa Tenggara Barat, dari Shantinet sampai Ratna Dewi.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eLewat forum ini pula, yang memang tidak memiliki tema yang eksplisit, juga tidak melahirkan isu yang cukup artikulatif, Jambi menyediakan diri untuk menampung kemungkinan berdirinya wadah sastra Indonesia (Firdaus, Acep Zamzam Noor). Hadirnya Jambi dalam pentas sastra Indonesia bisa dibaca sebagai fenomena munculnya kota-kota yang mencoba menggunakan sastra sebagai ikon mereka. Jambi merasa memiliki sejarah dan latar belakang trans-lokal untuk memasuki pentas sastra itu.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eFenomena munculnya kota- kota yang mendekatkan diri kepada sastra, juga bagian dari politik otonomi di mana pemilihan kepala daerah kini telah menjadi seremoni baru di banyak kota. Peristiwa politik yang juga mencoba menanamkan investasi nilai pada sastra dan sebaliknya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eFenomena di mana kian mendekatnya sastra ke politik ini, menjadi sebaliknya dengan fenomena seni rupa yang kian dekat dengan ekonomi. Kedekatan itu akan membawa posisi yang dilematis antara keduanya manakala infrastruktur dan suprastruktur seni dalam masyarakat kita tidak berjalan seimbang. Yang satu mengalami dilematis secara politis, yang lain mengalami dilematis dalam hukum-hukum pasar yang mengatasinya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eFenomena itu mungkin juga bagian dari tanda bahwa masyarakat urban kian membutuhkan seni yang mampu mewakili nilai-nilai mereka, sekaligus mereka bisa melakukan investasi dalam nilai-nilai itu. Berbagai pertemuan sastra, yang tidak mampu mendesain dirinya lewat fenomena ini, termasuk lewat perkembangan sastra itu sendiri; kuratorial yang lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas dan menenggelamkan visi hanya untuk terjadinya seremoni kuantitas, tidak akan pernah bertemu dengan apa yang pernah disebut Iwan Simatupang dalam salah satu karyanya: Kota yang tenggelam dalam seribu karangan bunga.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eDan orang mengenang, kita pernah datang ke kota itu. Merayakan imajinasi untuk impian- impian lainnya.\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cp face\u003d\"georgia\" style\u003d\"text-align: justify;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/p\u003e\u003cp style\u003d\"text-align: justify; font-family: georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003eSumber : Kompas,  13 Juli 2008\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/p\u003e\u003cdiv  style\u003d\"text-align: justify;font-family:georgia;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-3880792911939701730?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/3880792911939701730/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d3880792911939701730\u0026isPopup\u003dtrue","title":"1 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3880792911939701730"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3880792911939701730"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/07/kota-yang-tenggelam-dalam-seribu.html","title":"Kota yang Tenggelam dalam Seribu Karangan Bunga"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"1"}},{"id":{"$t":"tag:blogger.com,1999:blog-23107569.post-3096165805294126071"},"published":{"$t":"2008-07-13T19:49:00.000+07:00"},"updated":{"$t":"2008-07-13T19:51:16.471+07:00"},"title":{"type":"text","$t":"Pesta Puisi di Kediri"},"content":{"type":"html","$t":"\u003cdiv style\u003d\"text-align: justify; font-family: georgia;\"\u003e\u003cdiv style\u003d\"text-align: center;\"\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e           Oleh: \u003cb\u003eD. Zawawi Imron\u003c/b\u003e\u003c/span\u003e\u003cbr /\u003e\u003c/div\u003e\u003cspan style\u003d\"font-size:100%;\"\u003e\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSekitar 50 sastrawan dari kawasan Asia Tenggara berkumpul di Kediri, 30 Juni sampai 3 Juli 2008. Mereka mengadakan ''Pesta Penyair Nusantara 2008''. Di antaranya ada Ahmadun Yosi Herfanda, Viddy A. Daery dari Jakarta, Dinullah Rayes dari Sumbawa, dan Anil Hukma dari Makassar. Di samping itu, banyak lagi penyair dari Tegal, Bandung, Jogjakarta, Medan, Pekanbaru, Samarinda, dan lain-lain. Dari Malaysia datang Dato' Kemala dan Malim Ghozali, sastrawan dan ahli matematika Alquran.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eMeskipun disebut ''Pesta Penyair Nusantara 2008'', acaranya tidak hanya baca puisi saja. Tak kalah pentingnya ialah seminar dan diskusi tentang perkembangan puisi di Asia Tenggara.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePenyair berdiskusi sesama penyair tentu saja seru. Aneka argumentasi disampaikan yang harus dijawab dengan argumentasi yang lebih akurat. Diskusi-diskusi tentang puisi tidak hanya menarik kalangan penyair saja. Nuruddin Hasan, anggota DPRD Kodya Kediri, selalu hadir sejak pembukaan sampai diskusi hari terakhir. Meskipun bukan penyair, ia masih ingin mendapatkan suara nurani para penyair di samping ingin mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan puisi mutakhir. Sebagai seorang aktivis politik mungkin ia sepaham dengan ucapan Presiden Amerika, John F. Kennedy bahwa, ''Kalau politik kotor puisilah yang akan membersihkannya.''\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eDikisahkan, ketika Kennedy dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat, ia tidak lupa kepada puisi. Buktinya, ia mengundang Robert Frost, penyair besar Amerika pada pertengahan abad ke-20 untuk membaca puisi. Itu artinya, acara pesta puisi yang berlangsung di Kediri selama 4 hari itu tidak lain sebagai sejenis jawaban terhadap keresahan dan suara-suara sumbang dari perilaku sebagian politikus di tanah air. Konon ada orang politik jadi makelar penebangan hutan, ada calon lurah, bupati, dan gubernur membiarkan konstituennya ngamuk ketika kalah pilkada, dan lain-lain. Belum politikus yang memecah partainya sendiri seperti memecah gelas atau cangkir, di samping berita ketidakramahan lainnya yang mencerminkan sebagian (kecil?) dari tokoh-tokoh bangsa kita kehilangan rasa santun.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePesta puisi yang digelar di Kediri itu adalah upaya para penyair untuk tetap bersama dengan nurani bangsa ini. Kata begawan Budi Darma, titik berat kepenyairan ialah perjuangan penggabungan \u003ci\u003edulce et utile\u003c/i\u003e,\u003ci\u003e \u003c/i\u003ekeindahan, dan manfaat. Dalam \u003ci\u003eutile\u003c/i\u003e,\u003ci\u003e \u003c/i\u003eterdapat unsur moral yang bisa dipetik oleh pembaca, lengkap dengan kearifan untuk hidup damai. Budi Darma memang tidak setuju \u003ci\u003eutile \u003c/i\u003eyang terlalu eksplisit, karena bisa menganggu \u003ci\u003edulce\u003c/i\u003e, keindahan puisi itu sendiri.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eJika puisi benar-benar digunakan untuk menghormati kehidupan dan kemanusiaan seperti yang tersirat pada pendapat Budi Darma di atas, maka puisi, atau pesta penyair akan menjadi sejenis ''oase'', tempat para pengembara kehidupan dari berbagai sektor dan lapisan bisa meneguk air nurani, atau air kehidupan. Bukankah dulu orang Jawa minum kejujuran dari \u003ci\u003eSerat Kalatida\u003c/i\u003e-nya Ronggowarsito dan puisi-puiti tembang lainnya?\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003ePesta Penyair Nusantara 2008 memang berlangsung sederhana. Panitia sendiri mengaku kesulitan dana. Itulah nasib perjuangan kebudayaan. Namun di balik kesederhanaan itu ada nilai, yaitu sinyal adanya orang-orang yang masih setia kepada kemanusiaan dan keindahan. Orang yang rindu meneguk kejernihan sukma sejati.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSeminar dan diskusi yang berlangsung di aula Universitas Kediri berjalan seru. Tetapi di luar gedung seminar, para peserta minum kopi di warung di seberang aula, yang asalnya hanya omong-omong santai, kadang-kadang meningkat menjadi pembicaraan serius, tentang sastra dan seni antarnegara. Saya lihat pianis Agus Bing (Indonesia) yang berdiskusi dengan Malim Ghozali (Malaysia) tiba-tiba menjalin kesepakatan. Keduanya akan berkolaborasi pada 30 Agustus nanti. Malim Ghozali akan meluncurkan dan membaca puisi di Kualalumpur dengan iringan musik Agus Bing.\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eBagus, puisi yang murni memang membuat orang mudah untuk bersatu jiwa dalam kedamaian. Tapi, seberapa banyak orang yang hidupnya memerlukan puisi? Itulah hal yang menjadi pikiran saya sepulang dari Pesta Penyair Nusantara di Kediri minggu yang lalu. ***\u003cbr /\u003e\u003cbr /\u003eSumber : Jawa Pos, Minggu 13 Juli 2008\u003cbr /\u003e\u003c/span\u003e\u003c/div\u003e\u003cdiv class\u003d\"blogger-post-footer\"\u003e\u003cimg width\u003d'1' height\u003d'1' src\u003d'https://blogger.googleusercontent.com/tracker/23107569-3096165805294126071?l\u003dbungkapit21.blogspot.com'/\u003e\u003c/div\u003e"},"link":[{"rel":"replies","type":"application/atom+xml","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/feeds/3096165805294126071/comments/default","title":"Poskan Komentar"},{"rel":"replies","type":"text/html","href":"https://www.blogger.com/comment.g?blogID\u003d23107569\u0026postID\u003d3096165805294126071\u0026isPopup\u003dtrue","title":"0 Komentar"},{"rel":"edit","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3096165805294126071"},{"rel":"self","type":"application/atom+xml","href":"http://www.blogger.com/feeds/23107569/posts/default/3096165805294126071"},{"rel":"alternate","type":"text/html","href":"http://bungkapit21.blogspot.com/2008/07/pesta-puisi-di-kediri.html","title":"Pesta Puisi di Kediri"}],"author":[{"name":{"$t":"K4p1t"},"uri":{"$t":"http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926"},"email":{"$t":"noreply@blogger.com"},"gd$extendedProperty":{"xmlns$gd":"http://schemas.google.com/g/2005","name":"OpenSocialUserId","value":"01264998720895146462"}}],"thr$total":{"xmlns$thr":"http://purl.org/syndication/thread/1.0","$t":"0"}}]}});